Bentrokan di Gaza Timur, 55 Warga Palestina Tewas Ditembak Israel

Demo warga Palestina atas pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem, Senin (14/5 - 2018). (Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)
15 Mei 2018 13:00 WIB Newswire Internasional Share :

Solopos.com, GAZA – Bentrokan yang terjadi antara pemrotes Palestina dengan tentara Israel di timur Jalur Gaza menewaskan 15 orang dan melukai 2.771 orang. Rakyat Palestina menolak pemindahan kedubes Amerika Serikat untuk Israel ke Yerusalem, Senin (14/5/2018). 

Juru Bicara Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, Ashraf Al-Qedra, mengatakan kepada wartawan tentara Israel telah menembak hingga tewas 55 orang Palestina dan melukai 2.771 orang lagi. Itu merupakan hari paling berdarah sejak berakhirnya agresi besar militer Israel terhadap Jalur Gaza pada musim panas 2014.

Ramadan Ekstra - Promo Belanja Kebutuhan Lebaran 2018 - Tokopedia

Ia menyatakan tujuh orang Palestina yang tewas pada Senin (14/5/2018) adalah anak kecil, demikian laporan Xinhua sebagaimana dipantau Antara, Selasa. Ia menambahkan 54 orang yang cedera berada dalam kondisi sangat kritis.

"Sebanyak 1.204 orang cedera terkena amunisi aktif, 13 orang peluru logam yang berlapis karet, 133 akibat pecahan amunisi dan 837 menderita sesak napas karena menghirup gas air mata," kata Al-Qedra. Ia menuduh tentara Israel melakukan pembantaian terhadap rakyat yang tidak memiliki pertahanan diri.

Pemogokan umum mendominasi Jalur Gaza pada Senin, yang melibatkan murid sekolah, mahasiswa, pegawai bank dan toko, dan jalan-jalan lengang dari lalu-lintas serta pejalan kaki.

Ban dibakar di seluruh jalan utama untuk menentang pemindahan Kedutaan Besar AS ke Jerusalem.

Bus dan truk mengumpulkan orang dari jalan dan permukiman dan daerah di dekat masjid, sementara pengeras suara di masjid menyeru warga agar bergabung dalam pawai satu-juta-orang Palestina.

Kendaraan membawa ratusan peserta ke berbagai daerah di bagian timur Jalur Gaza di dekat perbatasan dengan Israel.

Pemimpin Front Rakyat bagi Pembebasan Palestina Jamil Mizher mengatakan kepada wartawatan, "Hari ini, rakyat pergi ke daerah di bagian timur Jalur Gaza untuk mengubah sejarah dan mencatat tahap penting dalam sejarah mereka dan perjuangan mereka.Rakyat kami keluar untuk mengatakan “tidak” buat semua persekongkolan yang ditujukan kepada masalah Palestina, hak untuk pulang dan Yerusalem. Persekongkolan ini takkan berhasil dan rakyat kami berkeras untuk meraih hak sah mereka dari musuh dan mewujudkan kepulangan, kebebasan dan kemerdekaan," katanya.

Kepala sub-delegasi Komite Palang Merah Internasional di Jalur Gaza Gilan Devorn pada Senin pagi telah menyerukan dihindarinya korban jiwa dan kerugian di kalangan rakyat Palestina yang bergabung dalam protes massal terhadap Israel di bagian timur Jalur Gaza.

Devorn mengatakan dalam satu taklimat di Rumah Sakit Shiffa di Jalur Gaza, "Kami menyeru semua pihak agar melakukan langkah pencegahan guna memperkecil jumlah korban jiwa dan menghindari kerugian dan korban jiwa.

Juru Bicara Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) Hazem Qasem sebelumnya mengatakan, "Rakyat Palestina takkan menerima dengan cara apa pun untuk hidup dalam pengepungan yang diberlakukan atas Jalur Gaza, dan mereka bertekad untuk menulis dokuman mereka untuk memutuskan nasib sendiri."

Pemimpin utama HAMAS di Jalur Gaza Mahmoud Zahar mengatakan kepada wartawan selama ketikut-sertaannya dalam pertemuan terbuka di bagian selatan Jalur Gaza bahwa mekipun ada kejahatan berupa tewas dan cederanya orang Palestina, "kami akan melanjutkan pawai kami sampai sasaran kami tercapai".

Pertemuan terbuka, protes dan bentrokan mencapai puncaknya pada Senin, sebagai bagian dari apa yang disebut oleh orang Palestina sebagai "Pawai Akbar Kepulangan", yang dimulai pada 30 Maret dan sejauh ini telah menewaskan 104 orang serta melukai 12.000 orang lagi.

 

Sumber : Antara