Pelayan Jemaat Gereja Surabaya Ceritakan Detik-Detik Bom Meledak

Pemakaman salah satu korban bom Surabaya di TPU Bonoloyo, Solo, Selasa (15/5 - 2018). (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
15 Mei 2018 15:15 WIB Irawan Sapto Adhi Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Pelayan jemaat Gereja Pentakosta Pusat Surabaya, Jl. Arjuno, Surabaya, Sri Purwanti, 66, menceritakan detik-detik saat terjadinya peristiwa bom bunuh diri di gereja tersebut, Minggu (13/5/2018), yang merenggut belasan nyawa warga sipil, salah satunya Sri Pudji Astuti, yang dimakamkan  di TPU Bonoloyo, Solo, Selasa (15/5/2018).

Saat peristiwa bom bunuh diri terjadi, menurut Sri Purwanti, Sri Pudji Astuti tengah berada di pelataran gereja. Pudji sedang menunggu penyelenggaraan misa kedua. Saat itu kebetulan Pudji Astuti sudah janjian dengan Sri Purwanti untuk datang pada misa kedua.

Tokopedia

Tapi Pudji Astuti berangkat lebih awal. Pudji tak langsung masuk ke gereja karena sedang ada misa pertama.

"Jarak antara dirinya dengan ledakan bom  sekitar 3 meter. Sempat ada harapan dia bisa diselamatkan tapi Tuhan berkehendak lain," kata Sri Purwanti saat ditemui Solopos.com di TPU Bonoloyo, Selasa.

Sri Purwanti menyebut Pudji Astuti saat itu bersama salah seorang rekannya yang juga meninggal seketika akibat terkena bom bunuh diri. Sri Purwanti mengenal Pudji Astuti sebagai jemaat yang rajin beribadah.

Bukan hanya itu, Pudji Astuti juga aktif dalam kegiatan sosial gereja. Dia menyebut sedikitnya ada 50-an jemaat gereja yang turut hadir dalam pemakaman Pudji Astuti di Solo.

Sementata itu, Sri Purwanti menegaskan jemaat Gereja Pentakosta Pusat Surabaya tak gentar dengan aksi terorisme  Minggu lalu. Jemaat gereja menyerahkan hidup mati kepada Tuhan.

"Buat apa takut. Mati hidup di tangan Tuhan. Jalannya lain-lain. Kapan akan mati, kita semua enggak tahu. Yang jelas kami akan terus mendatangi gereja untuk ibadat," jelas Sri.



Kolom 16 hours ago

Kiri Zaman Kini