Teror Bom Gereja di Surabaya Diduga Terkait Aksi di Rutan Brimob

Petugas mengevakuasi korban di lokasi ledakan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5 - 2018). (Antara / Didik Suhartono)
13 Mei 2018 12:55 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) pagi sekitar 07.35 pagi WIB, diduga terkait aksi para napi/tahanan di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, pekan lalu.

Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto, mengatakan kasus ini kemungkinan masih terkait rencana serangan 11 Mei 2018. Sebelumnya, aparat kepolisian telah melakukan penangkapan terduga teroris yang sedang merakit bom di Bogor.

"Ini sebetulnya berbaur dengan serangan di Mako Brimob sebelumnya. Ada rencana serangan 11 Mei, itu kan di mana-mana terjadi. Juga ada rencana alternatif dari berbagai lini di samping kepolisian," kata dia dalam wawancara jarak jauh live yang ditayangkan Metro TV, Minggu pagi.

Menurutnya, ada rentetan kasus yang cukup panjang sejak kerusuhan di rutan sejak Selasa (8/5/2018) malam lalu. "[kerusuhan di Rutan] Mako Brimob meletus 8 Mei, seharusnya tanggal 11 [Jumat, 11/5/2018]," kata Wawan.

Dia menduga ada pergeserean sasaran aksi teror yang dilakukan para pelaku. Setelah kepolisian memperketat pengamanan di seluruh daerah, kelompok-kelompok teror mencari target alternatif selain markas polisi. Salah satunya adalah lokas-lokasi strategis dan sensitif.

"[sasaran] Utama kepolisian, namun kepolisian memblok, akhirnya cari alternatif. Ini yang terjadi. Kita harapkan aparat keamanan bisa menjaga lokasi-lokasi strategis, religi, gereja, yang masih menjadi tempat sensitif sasaran. Ini yang kita perkuat," ujarnya.

Wawan menduga aksi teror yang menyebabkan 10 orang meninggal dunia dan 41 lainnya luka-luka, adalah gerakan lama. "Jamaah Ansorut Daulah, nama sudah ada, sebagian sudah tertangkap. Tapi sebagian masih buron, saat ini masih kita lakukan operasi pencarian. Nama kan masih banyak alias dan ini catatan rahasia kepolisian."