40 Jam Penyanderaan, Teroris Rebut 30 Senjata Api & Rakit Banyak Bom

Polisi melakukan pengamanan Mako Brimob Kelapa Dua Depok pasca-bentrok antara petugas dengan tahanan di Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5 - 2018). (Antara / Akbar Nugroho Gumay)
10 Mei 2018 09:28 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, DEPOK -- Proses penanggulangan dan penindakan terhadap para narapidana/tahanan terorisme yang terlibat kerusuhan dan penyanderaan diwarnai suara letusan dan tembakan. Suara letusan ini muncul dari proses sterilisasi karena para teroris tersebut sempat menyita puluhan pucuk senjata api dan bom-bom yang dirakit oleh para tahanan/napi selama 40 jam penyanderaan.

Perebutan senjata dan bom inilah yang membuat aksi para napi/tahanan terorisme tersebut menjadi semakin berisiko. Selain jumlah mereka yang mencapai 155 orang, mereka merebut puluhan pucuk senjata api dan bom rakitan saat berupaya menguasai rutan sejak kerusuhan berlangsung. Namun, Menkopolhukam Wiranto menyebutkan senjata-senjata yang direbut tersebut bukan senjata organik milik aparat, melainkan hasil sitaan dari berbagai operasi Densus 88.

Tokopedia

"Sebelum fajar mereka mengatakan menyerah tanpa syarat, dan kita minta satu persatu mereka keluar dari lokasi. Dan seperti kita ketahui, 145 dari 155 keluar satu persatu menyerah tanpa syarat, senjata ditinggalkan. Padahal mereka merebut senjata 30 pucuk, bukan senjata organik, tapi senjata sitaan dari berbagai operasi sebelumnya," kata Wiranto dalam konferensi pers di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5/2018) pagi yang disiarkan live oleh Kompas TV.

Hal itu juga ditegaskan oleh Wakapolri Komjen Pol Syafruddin dalam update informasi terakhirnya di Mako Brimob. Menurut Syafruddin, ledakan itu merupakan proses sterilisasi kawasan yang kembali dikendalikan oleh aparat. Pasalnya, selama 40 jam penyanderaan, para napi/tahanan sempat melakukan perakitan bom di dalam rutan.

"Selama 40 jam melakukan penyaderaan dan melakukan perakitan bom, dan yang tadi diledakkan adalah sisa-sisa bom itu," kata dia.

Komandan Korps Brimob, Irjen Pol Rudy Sufahriadi, yang memimpin operasi penindakan itu juga menyatakan hal yang sama. Bom-bom yang direbut oleh para napi/tahanan teroris tersebut juga merupakan barang sitaan dari berbagai operasi yang dilakukan aparat Densus 88. Namun karena kerusuhan ini, bom-bom itu direbut kembali oleh mereka dan dirakit kembali.

"Saya melakukan penidakan, suara ledkan untuk menghancurkan tembok, yang patut diduga ada banyak bom di sana. Itu barang bukti yang belum sempat digudangkan, itu yang mereka rebut lagi, mereka pakai. ada cukup banyak, ada banyak yang kita ledakkan," kata Rudy.

Namun Rudy memastikan tidak ada satupun tahanan/napi yang terluka dalam operasi penindakan yang dilakukan oleh Brimob tersebut. Menurut Syafruddin, seluruh tahanan/napi dan sandera bisa dievakuasi tanpa ada korban jiwa.

"Ini dengan kecermatan seluruh tim yang terlibat dalam penanggulangan ini, sehingga menjadi pelajaran bagi kita semua dan anak bangsa, untuk melihat secara objektif. Polisi tulus ikhlas, 5 orang gugur, 4 mengakami cidera dan trauma. Sekali lagi, mari kita jadikan ini pelajaran. Polri sudah mempersembahkan yang terbaik untuk anak bangsa," tutup Syafruddin.