Non Scholae Sed Vitae Discimus

Ilustrasi pelajar (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
08 Mei 2018 03:00 WIB Advent Tarigan Tambun Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (26/4/2018). Esai ini karya Advent Tarigan Tambun, penulis buku Piala Dunia dan Matematika. Alamat e-mail penulis adalah atambun@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Saya menulis opini ini setelah pikiran saya terganggu oleh tulisan Salahuddin Wahid beberapa waktu lalu yang berjudul Tak Sembarang Orang Bisa Menjadi Guru.

Tokopedia

Saya sangat yakin tulisan yang dimuat Harian Kompas ini membawa pesan yang sangat jelas bagi siapa pun yang memberikan perhatian pada pendidikan. Kita memiliki problem pada akar pohon sistem pendidikan guru.

Kita tidak memiliki banyak guru yang baik atau lebih tepatnya proses pembibitan guru kita tidak menghasikan benih yang mumpuni. Di ujung paragraf tulisan tesebut, saya tidak menemukan solusi taktis dan terukur dari sebuah paparan analisis situasi pendidikan saat ini.

Data-data yang digunakan penulis tidak mampu menelurkan ide aplikatif untuk menjawab tantangan yang dipaparkan sebelumnya. Penempatan nama-nama besar seperti  presiden, wakil presiden, dan beberapa menteri tidak dengan serta-merta memperlihatkan solusi aplikatif.

Singkat kata, opini tersebut berhenti pada refleksi atas peristiwa yang membutuhkan solusi taktis. Mengikuti alur paparan tulisan tersebut, saya ingin mengangkat sebuah contoh seorang siswa sebuah sekolah menengah kejuruan di Kota Solo yang berani membuka kedai kopi model street cafe alias kereta dorong.

Hampir semua benda, tulisan, dan logo yang melekat pada bisnis baru tersebut memiliki sejarah tersendiri dan message behind the products. Dengan lantang mereka, saya menyebut mereka karena usaha tersebut didirikan dan dijalankan oleh tiga sahabat, mengatakan bahwa usaha street cafe tersebut adalah hasil perenungan setelah mendapat arahan dari para pendidik mereka.

Ternyata di sekolahan mereka dituntut untuk mendirikan sebuah usaha. Hasilnya adalah sebuah street cafe. Saya kira street cafe jadi sisi lain dari cermin pendidikan kita. Generasi sekarang memang tidak sepintar generasi dulu, tetapi mereka telah mampu keluar dari jebakan sistem pendidikan yang menyibukkan diri pada hasil ujian dan ijazah.

Membuka sebuah gerai sekecil apa pun itu membutuhkan dana, market research, product knowledge¸ teamwork, experiments, analisis,dan yang tidak kalah penting adalah keberanian untuk gagal.

Mereka mengaplikasikan teori-teori yang dijelaskan di buku tentang bisnis yang dipelajari oleh mahasiswa tingkat sarjana bahkan tingkat master.

Tak mengherankan bila seorang kawan saya yang lulusan universitas ternama di negeri ini dan menjalani hidup sebagai konsultan berkeinginan membuka usaha sendiri tetapi tetap menunda karena belum memiliki keberanian.

Dengan bangga saya mengajak si remaja siswa sekolah menengah kejuruan tersebut menyeduh kopi di pameran IFEX 2018 di Jakarta, pameran mebel terbesar di Asia Tenggara. Dari kedai kopi di bawah pohon di tepi jalan, ia menyeduh kopi untuk buyer yang mayoritas warga asing.

Sekolahan sejatinya adalah masyarakat itu sendiri. Sekolahan adalah dunia kecil yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat. Kesuksesan bersekolah bukan diukur dari ijazah dan berapa gelar akademis yang menghiasi nama, tetapi surviving process yang bisa dirasakan di dunia nyata.

Non scholae sed vitae discimus. Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup. Demikian kata orang orang yang pernah bersentuhan dengan pemikiran dan buku-buku Socrates, Aristoteles, dan Plato.

Dinding kelas, bangku, dan meja adalah bagian kecil dari sebuah Sekolah. Saya tuliskan ”Sekolah”, dengan S dalam huruf besar, untuk membedakan dengan sekolah sebagai gedung.

Sekolah harus mampu menghadirkan realitas sesungguhnya ke dalam kelas. Sekolah harus bisa menghadirkan rasa dan pikiran atas peristiwa aktual ke dalam kelas. Itulah sekolah menurut hemat dan praktik yang saya lakukan dalam ruang kelas bahasa Spanyol.

Sekadar informasi, saya pengajar bahasa Spanyol sejak 2004. Prinsip menghadirkan kenyataan masyarakat ke dalam kelas terbukti lebih efektif daripada mendorong mereka berkelindan dengan teori-teori yang bikin mumet dan ribet.

Adalah Ester Wojcicki, tokoh di balik sitem pendidikan sekolah di Palo Alto, Amerika Serikat. Saya tidak mengenal dia secara personal dan juga tidak mengenal banyak karya-karya dia. Hanya karena sebuah kebetulan saya mendengarkan wawancara dengan dia melalui Internet.

Internet adalah  sebuah sarana yang membuat dunia kita semakin kecil dan dunia pendidikan kita mengalami banyak perubahaan. Saya tidak hendak membahas ini, tetapi memaparkan empat hal yang penting menurut Wojcicki dalam perbaikan sistem pendidikan kita.

Yang pertama adalah komunikasi. Setiap anak didik mestinya mendapat pengajaran dan pelatihan tentang bagaimana harus berkomunikasi yang baik secara tulisan maupun lisan. Dalam praktik pendidikan yang ia jalankan, ruang berlatih komunikasi tersebut terbukti sangat membantu perkembangan para siswa.

Hidup kita, kata Wojcicki, tidak pernah terlepas dari komunikasi. Segala sesuatu yang kita lakukan berkaitan langsung dengan cara kita mengomunikasikan diri, produk, barang, dan ide kepada orang lain. Kita adalah produk komunikasi itu sendiri.

Yang kedua adalah kolaborasi. Masyarakat terdiri atas berbagai macam manusia, watak, karakter, suku, ras, cara pandang, agama, dan lain sebagainya. Una cabeza es un mundo, seorang individu adalah sebuah dunia tersendiri.

Dalam aktivitas kelas seorang anak diarahkan bisa bekerja sama dengan segala lapisan masyarakat dan tidak terjebak dalam komunitas sejenis yang seragam. Kembali kepada prinsip semula bahwa Sekolah adalah masyarakat kecil, maka sejatinya di sekolah tantangan hidup bermasyarakat pun sudah tercermin nyata.

Sayangnya sekolah-sekolah kita sudah terkotak-kotak sejak awal, baik karena ekonomi, golongan, maupun yang lain. Kita telah membatasi ruang kolaborasi kita pada sesuatu yang sama.

Dengan simpel Wojcicki menjelaskan bila ada anak yang protes dengan keadaan itu, suruhlah dia agar bertanya kepada bapaknya di rumah, apakah bapaknya bekerja di sebuah perushaaan yang karyawannya memiliki latar belakang yang sama, pola pikir yang sama, cara pandang yang sama, atau identitas religius yang sama? Jawabannya pasti tidak. Sekolah mesti mampu merefleksikan perbedaan tersebut.

Ketiga berpikir kritis. Setelah mengamati dan membahas realitas di dalam masyarakat, siswa diberi kesempatan dalam kelompok untuk memberikan penilaian kritis. Mereka harus mengemukakan tanggapan personal terhadap kenyatan.

Pada proses ini setiap anak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri. Ini sebuah kegiatan yang sangat jauh dari budaya hafalan yang jamak di sekolah-sekolah kita selama ini.

Vocacion

Itu juga yang disampaikan oleh Wojcicki, bahwa pada masa ia menjadi siswa adalah penghafal yang hebat dalam hal data-data sejarah yang penuh dengan angka-angka tahun. ”Saya selalu mendapat nilai sangat baik, tapi apa yang saya ingat sekarang? Tidak ada. Saya yakin banyak orang yang mengalami hal yang sama dengan saya,” kata Wojcicki.

Saya kira kita pun merasakan hal yang sama seperti yang dialami Wojcicki. Pengalaman saya pribadi, satu-satunya catatan tahun dalam pelajaran sejarah yang saya ingat sampai kini adalah 1825-1830, Perang Dipenegoro.

Saya mengingat tahun itu bukan karena tahunnya, tetapi karena memori saya melekat pada lukisan Raden Saleh ketika Pangeran Dipenegoro ditangkap militer Belanda. Saat itu, pikiran saya sangat terganggu, kok seorang pangeran yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi menyerahkan diri.

Yang keempat, kreativitas. Sekolah Palo Alto menghasilkan banyak media masa. Mereka membuat koran dan majalan dengan berbagai macam topik. Tugas akhir kelompok siswa adalah melahirkan sebuah karya yang di dalamnya terdapat analisis data dan fakta serta opini mereka terhadap realitas yang mereka tuliskan dalam bentuk koran.

Saya langsung ingat teman siswa sekolah menengah kejuruan di Solo tadi yang kini menuangkan hasil analisis dan refleksinya dalam bentuk street cafe yang modalnya hasil patungan dan pinjaman dari keluarga.

Kembali ke tulisan Salahuddin Wahid, Tak Sembarang Orang Bisa Menjadi Guru¸ternyata Ester Wojcicki telah menjadi salah satu referensi sitem pendidikan saat ini dan Silicon Valley sekalipun telah melirik dia untuk memberikan masukan bagaimana teknologi komunikasi bisa membantu sistem pendidikan anak.

Menjadi guru bukan sebuah profession, tetapi vocación. Ini dua hal yang sangat berbeda. Yang pertama kita semua tahu artinya, yang kedua berasal dari voz, suara, panggilan. Vocacion adalah panggilan jiwa.

Mengajar tidak bisa berhenti pada tataran porfesi, tetapi lebih pada panggilan jiwa, karena Anda mendidik sebuah dunia, bukan sebuah nama. Izinkan saya menutup tulisan ini dengan menyampaikan rasa kagum saya kepada Susi Pudjiastuti.

Saya kira Menteri Kelautan dan Perikanan ini layak menjadi tokoh pendidikan kita saat ini karena dia adalah contoh riil non scholae sed vitae discimus.  

 

Kolom 16 hours ago

Kiri Zaman Kini