Pemilihan Gubernur Adem dan Ayem

Algooth Putranto (Istimewa)
06 Mei 2018 08:00 WIB Algooth Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (25/4/2018). Esai ini karya Algooth Putranto, warga Jawa Tengah, sedang menempuh studi doktor Ilmu Komunikasi, dan dosen di Universitas Atma Jaya Jakarta. Alamat e-mail penulis adalah algoothp@gmail.com.

Solopos.com. SOLO--Pesta politik pemilihan gubernur DKI Jakarta memang telah lama berlalu, namun diakui atau tidak lukanya tak kunjung kering. Tampaknya luka-luka itu makin bertambah menjelang pemilihan presiden 2019 yang kini mulai memanas.

Pemilihan gubernur DKI Jakarta meninggalkan banyak luka akibat eksploitasi isu sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang masif dan demikian mudahnya diksi yang ora ilok diumbar kepada publik luas melalui media sosial dan media arus utama (media mainstream).

Tatanan masyarakat Pancasila yang ditakdirkan plural pun terganggu dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta akibat dari pengerahan massa secara vis a vis mengusung isu sentimen SARA dan menjadikan pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017 lalu sengit bak pemilihan presiden.

Pemilihan gubernur Jawa Tengah hingga saat ini masih jauh dari kondisi sengit. Pada awal dimulainya rangkaian pemilihan gubernur Jawa Tengah memang sempat muncul kekhawatiran pemilihan gubernur DKI Jakarta akan terulang.

Ini tidak lepas dari munculnya Sudirman Said, lawan politik calon gubernur petahana Ganjar Pranowo, berikut konfigurasi partai-partai politik yang mendukung Sudirman Said.

Meski demikian, tahapan pemilihan gubernur Jawa Tengah yang hingga saat ini adem ayem tetap harus diwaspadai. Hal ini didasarkan pada analisis tren pemberitaan media arus utama dan media sosial sejak 1 Maret hingga 22 April 2018.

Untuk mengetahui tren pemberitaan media arus utama berbasis online dan media sosial, saya menggunakan dua perangkat analisis media sosial atau biasa disebut social media analytic tools, yaitu bitWafl Media Analytics dan Drone Politik.

Perangkat analisis media sosial merupakan sistem untuk mengetahui hasil komunikasi brand di media sosial yang digunakan brand sebagai media pemasaran. Brand dalam hal ini adalah tokoh politik, yakni para calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Tengah dalam peserta pemilihan gubernur Jawa Tengah 2018.

Dengan menggunakan platform analisis, tim pemasaran--yakni tim sukses calon gubernur dan calon wakil gubernur--dapat menguping berbagai insight yang dilakukan oleh kompetitor di media sosial, seperti Facebook, Twitter, bahkan Youtube maupun media arus utama berbasis online.

Dengan menguping maka dapat lebih dipahami apa yang sebetulnya yang dibicarakan oleh audiens sebagai target pemasaran. Audiens dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah adalah warga Jawa Tengah yang punya hak pilih.

Bukankah memahami adalah titik awal untuk meraih simpati yang tentu saja berujung pada suara yang akan diberikan pemilih? Memahami artinya mengetahui performa, seperti tingkat kenaikan pengikut, interaksi yang ada di dalam media aset, serta konten apa yang disukai oleh pemilih.

Dengan mengetahui hal ini, tim sukses akan dapat memetakan sebenarnya apa saja yang menjadi sentimen negatif dan positif di kalangan pemilih. Meski demikian, sebagai perangkat analisis media sosial, dua perangkat yang saya gunakan memiliki cara kerja yang hampir serupa, yakni alat untuk menggali data dari tumpukan big data di dunia siber.

Hal yang membedakan hanyalah sistem pengolahan algoritmenya. Tentu saja, sebagai alat keduanya bersifat saling melengkapi dengan kelebihan maupun kekurangan namun ihwal data yang terkumpul hingga matang untuk dianalisis membutuhkan peran manusia yang tentu saja tidak bebas nilai.

Peran manusia ini penting terutama untuk melakukan proses forensik terhadap informasi yang dikumpulkan. Sebagai contoh, ketika dilakukan forensik terhadap tanda pagar (tagar) penolakan sekolah lima hari justru ditemukan tautan terhadap aktivitas prostitusi.

Selain itu, harus saya tegaskan bahwa data yang terkumpul dan tersaring menggunakan tools analisis media hanyalah berasal dari dunia maya. Artinya, pemberitaan media tradisional seperti media cetak, televise, dan radio tidak dapat terjaring karena ada perbedaan medium yang digunakan.

Jakartanisasi

Dari tren pemberitaan media arus utama berbasis online dan media sosial yang berhasil dikumpulkan, dipilah, dan dianalisis dapat disimpulkan pemilihan gubernur Jawa Tengah tidaklah semeriah pemilihan gubernur DKI pada 2012, apalagi pemilihan gubernur DKI pada 2017 yang hiruk pikuk.

Tak cukup meriah bisa jadi karena konsumen media arus utama berplatform online dan pengguna media sosial Twitter di Jawa Tengah secara kuantitas memang jauh di bawah Jakarta atau mungkin saja isu pemilihan gubernur di Jawa Tengah tidak semenarik isu-isu lain, terutama bagi media di Jakarta, sehingga perbincangan pun adem dan anyep.

Dalam periode 1-31 Maret, mention (penyebutan) dua kandidat gubernur, yakni Ganjar Pranowo dan Sudirman Said, baik media arus utama berplatfomr online dan media sosial Twitter jika digabungkan bahkan tak menembus 50.000 mention.

Ganjar Pranowo menang telak karena disebut sebanyak 49.284 kali (70%), masing-masing 7.009 kali di media arus utama berplatfomr online dan 42.275 kali di Twitter. Sudirman Said hanya disebut 2.158 kali di media online dan 18.460 kali di Twitter.

Pada sepanjang periode tersebut artinya Ganjar jauh lebih populer dibanding Sudirman di media arus utama online dan media sosial Twitter. Meski demikian, dalam periode tersebut sentimen negatif Ganjar cukup tinggi akibat isu kasus kartu tanda penduduk elektronik dan aksi anggota Pantia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) yang menolak berjabat tangan.

Ganjar sebagai petahana jelas lebih paham isu yang disukai massa, antara lain menjadikan produk lokal menjadi produk kebanggaan Jawa Tengah, pendirian pos komando kemenangan di tempat kelahiran Sudirman, kedekatan dengan sejumlah ulama besar di Jawa Tengah, dan dukungan terhadap industri lokal.

Pola tersebut praktis tidak berubah pada periode 1 April hingga 22 April. Meski demikian, kuantitas pada April lebih dinamis. Jumlah mention melonjak berkat kontroversi puisi dan tentu saja debat antarpasangan calon gubernur dan walon wakil gubernur yang seharusnya jadi kesempatan penantang mengail simpati, tetapi justru menguntungkan petahana. 

Moncernya Ganjar pada pekan pertama April adalah berkah di balik keterbatasan literasi para akun media sosial pendukung Sudirman Said yang menjadikan puisi karya Gus Mus yang dibacakan Ganjar sebagai topik yang mencuri perhatian publik.

Sangat jelas terlihat penurunan favorabilitas atau tone terhadap Ganjar setelah pembacaan puisi yang dituding menistakan agama pada awal April. Tampilnya sejumlah sosok berlatar Nahdlatul Ulama, termasuk turun gunungnya K.H. Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus yang memberikan klarifikasi, membuat pamor Ganjar justru melejit.

Pada sisi lain, kegagalan menggoreng isu penistaan agama serupa di Jakarta yang diulang dengan aksi spanduk bernuansa sentiment SARA maupun selebaran berita lama tentang KTP-el menjelang debat pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur rupanya tidak cukup menguntungkan bagi popularitas Sudirman Said.

Sudirman Said sebagai penantang memang cenderung adem, namun kondisinya terlihat terjepit setelah munculnya isu kongkalikong saham PT Freeport yang ironisnya saat itu diungkapkan salah satu petinggi partai pengusung.

Tergerusnya favorabilitas Sudirman semakin diperparah oleh penolakan para petani terhadap rencana Sudirman yang akan menghapus program Kartu Tani yang digagas Ganjar. Upaya mereplikasi strategi Teman Ahok,  yakni saweran, untuk mengumpulkan duit sumbangan dana kampanye kurang disambut publik.

Indikasi paling mudah adalah sepinya tanggapan warganet terhadap fund raising dengan tagar #saweranjateng yang sebanding dengan sumbangan yang terkumpul. Sejak diluncurkan pada 8 April, hingga 24 April baru terkumpul Rp7,23 juta. Targetnya adalah Rp1 miliar.

Sekali lagi, jangan bandingkan dengan fundraising yang dilakukan Teman Ahok untuk membiayai syarat-syarat administrasi yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum untuk pencalonan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta melalui jalur independen. Saat itu dalam tempo dua hari, Teman Ahok sanggup mengumpulkan dana Rp1,4 miliar! 

Setelah debat pun kerja keras Sudirman dalam usaha memancing simpati massa tak kunjung berhasil. Hal itu masih ditambah kekeliruan dia ketika menyebut lokasi kelahiran Pahlawan Nasional R.A. Kartini yang langsung digoreng warganet.  

Pada sisi lain, di luar pertarungan isu yang dikemas setiap tim pemenangan, terdapat catatan yang menarik. Pertama, hingga saat ini dua orang calon wakil gubernur Jawa Tengah gagal memberikan pengaruh yang signifikan.

Ida Fauziyah dan Taj Yasin hingga saat ini tidak cukup mampu mencuri perhatian media massa maupun warga media sosial sehingga meningkatkan mention maupun favorabilitas pribadi, termasuk berimbas signifikan bagi pasangan mereka. Masih ditunggu kerja keras dua calon wakil gubernur tersebut.

Kedua, melalui perangkat analisis media sosial dapat diketahui demografi akun media sosial. Artinya kita dapat mengetahui lokasi sang pemilik akun tersebut melalui data geo tagging maupun IP address yang digunakan sang pemilik akun.

Dari analisis demografi jelas ada keterlibatan sejumlah akun media sosial berskala nasional atau di luar Jawa Tengah yang memanaskan atau meramaikan suasana. Aktifnya akun di luar Jawa Tengah, terlebih dengan banyaknya pengikut dan preferensi politik dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah, harus diwaspadai media dan warga Jawa Tengah.

Hal ini tak lepas dari pengalaman buruk pemilihan gubernur DKI Jakarta yang sengit akibat friksi yang ditimbulkan mereka melalui informasi negatif maupun hoaks yang disebarkan kemudian diperbincangkan oleh akun lokal yang kemudian mencuri perhatian media massa.

Di pemilihan gubernur Jawa Tengah indikasi ini pun mulai terlihat ketika dilakukan clustering (pengelompokan) perbincangan antarpendukung. Jelas terlihat mana pembicaraan yang organik atau sahih dilakukan manusia dan mana yang dilakukan oleh bot atau mesin. 

Jika aksi sejumlah akun dari luar Jawa Tengah dengan modus berkiprah serupa di pemilihan gubernur DKI Jakarta tidak diwaspadai, harapan pesta politik di Jawa Tengah berlangsung jujur, adil, adem, ayem, tentrem rentan tidak terwujud. Hal ini ditambah indikasi keterlibatan tokoh politik yang rupanya bertolak belakang dengan sikap partai pendukung petahana.