Kampung sebagai Hotel Kota Kolonial

A. Windarto (Istimewa)
05 Mei 2018 18:00 WIB A. Windarto (Yogyakarta) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/4/2018). Esai ini karya A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah winddarto@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Esai Albertus Rusputranto P.A. berjudul Solo Kota Federasi Kampung-Kampung (Solopos edisi 5 April 2018) menarik untuk didalami. Dalam sejarah Indonesia masa kolonial, hal dan masalah kampung telah mendapat perhatian yang cukup serius.

Artinya, kampung atau kampong bukan sekadar permukiman pribumi yang dipandang kumuh dan perlu diwaspadai sebagai sarang berbagai penyakit menular.

Kawasan itu menjadi penting dan mendesak untuk diperbaiki (kampongverbetering) agar tidak merusak, bahkan membahayakan, permukiman warga Eropa/Belanda yang biasanya ada di tengah-tengah kampung.

Itulah mengapa asaineering (sanitasi) alias kebersihan kampung menjadi pokok perbincangan terus-menerus di antara para ”insinyur kebersihan” atau ”insinyur kesehatan” yang ditugasi memantau dan mendorong rasionalisasi atas pertumbuhan kota zaman kolonial (Mrazek, 2006).

Tak mengherankan jika sejak abad ke-20 di Hindia Belanda kampung-kampung ditata ulang sebagai ”kamp-kamp” yang revolusioner. Itulah mengapa kampung menjadi seperti laboratorium baru bagi para pengamat dan arsitek Belanda, termasuk Sukarno, salah satu arsitek pribumi, demi membangun di daerah tropis.

Aktivitas mereka terutama terkait dengan teknologi baru untuk rumah-rumah tinggal serta penyesuaian diri dengan rumah-rumah, halaman, dan kebun-kebun yang lebih sempit dan berudara minim merupakan pilihan tak terhindarkan bagi orang-orang Eropa.

Dengan demikian modernitas yang dijalankan pada masa itu adalah sebuah pembangunan kota kolonial yang dari sudut pandang orang Eropa memiliki jalan-jalan yang panjang dan abadi di antara kampung-kampung kaum pribumi.

Dalam konteks ini bukan kebetulan kalau dimensi kampung ditempatkan sebagai bagian dari arsitektur baru Hindia Belanda, khususnya dimensi yang mencerminkan nuansa tradisional Jawa, diberlakukan menjadi oertype nij alle standen (pola dasar untuk semua rumah).

Masuk akal jika gaya bangunan yang ditampilkan paling lantang di antara para arsitek di Hindia Belanda, salah satunya sejak 1920-an, adalah gaya Eurasia. Gaya ini adalah perpaduan antara bangunan candi-candi di zaman kerajaan Jawa kuno dengan rumah-rumah klasik Eropa dan Belanda.

Pencetusnya bernama Maclaine Pont yang menurut sejarah adalah perancang kubah eksperimental di museum arkeologi Trowulan dan bangunan di kampus Institut Teknologi Bandung yang merupakan almamater Sukarno.

Gaya bangunan yang semakin tumbuh dan berkembang dengan cepat dan seakan-akan tanpa batas itu praktis menghasilkan beragam perubahan di masing-masing kota kolonial. Tidak hanya perubahan tata kota, melainkan juga perubahan sosial dan budaya yang semakin lama tampak semakin bertentangan.

Dengan kata lain, mengingat begitu beragamnya aliran di kalangan arsitek Belanda, timbullah berbagai pertentangan yang berpretensi memolekkan kota-kota kolonial di Hindia Belanda dengan gaya dari masing-masing aliran.

Di Bandung yang terkenal dengan peninggalan Villa Isola karya Schoemaker tampak berlawanan dengan Semarang sebagai kotanya Karsten yang dipandang sebagai kota paling indah di Jawa.

Singkatnya, masing-masing gaya arsitek yang berperan dalam pembangunan di daerah tropis membawa dampak yang tidak hanya menciptakan ruang-ruang baru dan kosong, tetapi sekaligus “sangat terpecah-pecah” (sterk atomistisch).

Yang paling terpengaruh oleh perubahan sosial dan budaya kota pada era itu adalah orang-orang pribumi di kampung-kampung dibuat semakin terasing dengan lingkungan di sekitar mereka.

Kampung-kampung yang dianggap sebagai tempat-tempat yang penuh dengan gubuk-gubuk dibuat bersih dan bebas dari segala penyakit menular dengan penanganan secara ilmiah di bawah pengawasan para ahli dari Belanda.

Contohnya mengenai distribusi air yang diatur untuk kepentingan permukiman-permukimana, baik di pusat kota maupun kampung-kampung, bukan sekadar diatasi dengan perancangan dan pembangunan pipa (air bersih) atau saluran (pembuangan tinja/rioleering) yang efektif.

Hal itu juga perlu dibuat seoperasional mungkin agar tidak menimbulkan bencana baru. Bencananya bukan hanya masalah banjir, namun semakin merata dan meluasnya orang yang sakit dan mati di kampung-kampung, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.

Sebagaimana dipertanyakan oleh Mas Marco Kartodikromo dalam Majalah Doenia Bergerak pada 1914, “Jadi, mengapa kami masih mati di kota-kota modern di Hindia Belanda?” Jawabannya amat sederhana, yaitu karena pemerintah kolonial Belanda telah menyebarkan pupuk buatan yang berisi asam belerang dan fosfat berkonsentrasi tinggi demi membunuh baksil-baksil.

Jargon Modernitas

Akibatnya, ketika musim hujan bahan-bahan kimia itu masuk ke sumur-sumur dan sungai-sungai yang berdampak membunuh lebih banyak orang daripada yang dapat dibunuh oleh penyakit kolera dan pes.

Perencanaan pembangunan kampung yang dilakukan dengan cara ”membersihkan” tampak hanya menjadi jargon modernitas dan ujung-ujungnya akan digusur dan dihancurkan karena di sanalah sumber-sumber bahaya.

Kebakaran, wabah penyakit, dan maling-maling berasal dari sana yang oleh sebab itu perlu ditata ulang sebagai sebuah ”taman sari”. Di taman yang menjadi model kampung (kampung percontohan) itu, kampung disusun dalam blok-blok perumahan yang aman, efisien, dan modern.

Blok-blok perumahan itu ditambah dengan air mancur, misalnya, yang menggantikan pancuran-pancuran umum, membuat kesan yang bagus dan kuat pada kampung-kampung. Apalagi jika daerah itu adalah perbukitan dan pegunungan.

Wabah bungalo dapat semakin mempermolek ”kota-kota mainan di pegunungan (nyata)”.   Jadi, kampung-kampung yang seakan-akan telah menjadi kamar depan atau mooi kamer dari sebuah kota kolonial dibuat seperti hotel-hotel.

Di sanalah tempat kediaman yang dapat digunakan secara bebas, terbuka, dan menyenangkan lantaran tidak harus tinggal terlalu lama dan dapat dengan mudah berpindah dari situ. Hanya saja, sebagaimana dicatat Ki Hajar Dewantara pada 1929, bahwa apa yang dialami warga sebangsanya yang modern, termasuk di kampung-kampung, adalah sebuah bentuk dari kehilangan kemerdekaan mereka.

Ki Hajar Dewantara menulis: Kehilangan roh kebangsaan (mereka) dan gagasan (mereka) sendiri telah mati. (Sekarang, mereka hidup) seolah-olah menginap di hotel milik orang lain, (puas) sekadar makan makanan enak dan tidur.

Apakah kehilangan itu akan berulang kembali pada masa kini mengingat ada berbagai perubahan yang telah terjadi di kampung-kampung di Kota Solo? Mari membuka mata dan telinga selalu.