Lagu, Kota, dan Asmara

Muhammad Milkhan (Istimewa)
05 Mei 2018 10:00 WIB Muhammad Milkhan (Klaten) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (19/4/2018). Esai ini karya Muhammad Milkhan, takmir Langgar Soeka Batja di Popongan, Tegalgondo, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah milkopolo@rocketmail.com.

Solopos.com, SOLO--Tidak ada yang lebih fasih melafalkan nama tempat (kota) dalam lantunan lirik lagu selain Didi Kempot.  Stasiun Kereta Api Balapan di Kota Solo yang penuh kenangan menjadi kisah dalam salah satu lagu berbahasa Jawa yang dikenal di seantero negeri ini, selain puluhan lagu lain yang menghadirkan latar kota atau daerah tertentu. 

Tokopedia

Lagu-lagu itu di antaranyaadalah Terminal Tirtonadi, Terminal Terboyo (Semarang), Parangtritis (Jogja), Pasar Klewer (Solo),  Cintaku Jauh di Lampung, Tragedi Tawangmangu, Perawan Kalimantan, Lintang Ponorogo, Malioboro (Jogja),  Cemara Sewu (lereng Gunung Lawu di Karanganyar), Tanjung Mas Ninggal Janji, Tanjung Perak (Surabaya), Taman Jurug (Solo), Awu Merapi, Suriname, dan tentu saja Stasiun Balapan.

Lirik lagu Didi Kempot yang hampir seluruhnya berbahasa Jawa terasa selaras bersanding dengan lantunan nada bergenre campursari. Tema asmara menjadi andalan Didi Kempot untuk menghipnotis para pendengar setia agar terus khusyuk melantunkan setiap bait lirik lagu.

Nama sebuah tempat (kota) yang disertakan dalam nyanyian seolah-olah jadi ikhtiar bagi Didi Kempot untuk memberi penegasan suatu peristiwa asmara. Hal ini mungkin dilakukan agar tragedi asmara yang menjadi inti cerita lagu dapat lebih diresapi dalam sanubari pendengar.

Tema pengkhianatan dan kerinduan berhasil membuat lagu-lagu Didi Kempot mengikat pendengar setianya. Mereka turut merasakan duka lara dalam penjiwaan alur cerita. Lirik-lirik lagu melankolis itu juga berhasil memancing kesadaran tentang ruang tempat tempat tragedi itu bermula.

Didi Kempot lebih memilih menepikan isu kemacetan, penggusuran, ketimpangan sosial, kesemrawutan tata kota, serta kekumuhan wajah kota dengan mengalihkan perhatian para pendengar lagu miliknya dengan tema-tema melankolis, tema-tema asmara.

Bila biasanya kita mengutuk kota dengan segala keburukannya yang klise, Didi Kempot justru memiliki cara lain yang ampuh untuk mengajak pendengar merasakan kekejaman kota lewat tragedi asmara. Kota memang kejam, namun kekejaman kota tak sebanding dengan luka asmara dalam bait-bait lagu yang dilantunkan suara merdu Didi Kempot.

Meskipun sebagian di antara kita belum pernah menginjakkan kaki di Stasiun Balapan, latar sebuah stasiun sebagai tempat datang dan perginya penumpang kereta seolah-olah cukup manjur menambah kegetiran nasib seseorang ketika ditinggal kekasih yang hilang bak ditelan bumi.

Pendengar lagu itu dipaksa turut merasakan kegetiran tersebut, hingga suatu saat ketika datang di Stasiun Balapan kita akan mengingat lagu Didi Kempot dan merasakan atmosfer patah hati yang dilantunkan dalam lagu Stasiun Balapan.

Kecenderungan Didi Kempot yang kerap mengupas pengalaman pribadi sang tokoh dalam merasakan luka dan duka asmara untuk dituangkan dalam sebuah lagu adalah bentuk konsistensi sebagai manusia Jawa. Ini sejalan dengan yang disampaikan Niels Mulder dalam buku Pribadi dan Masyarakat di Jawa (Sinar Harpan, 1985), ketika mengupas karakteristik pengarang-pengarang cerita yang berdarah Jawa.

Dalam cerita-cerita tersebut si tokoh kerap digambarkan sebagai pribadi yang menderita disebabkan kondisi dari luar dirinya. Hubungan-hubungan dengan orang lain itu menipu dan cenderung mengecewakan, yang terutama digarap oleh para pengarang perempuan.

Semua bercerita tentang pribadi-pribadi yang memandang ke dalam. Cerita mereka (para pengarang Jawa) banyak mengenai penderitaan pribadi dan mereka harus mencari pemecahan sendiri. Penekanan ke dalam diri sendiri mencerminkan tradisi kebatinan kuat dalam kebudayaan Jawa.

Akibatnya mereka akan memberi gambaran mengenai kemunafikan dan kekurangan dalam kehidupan yang memaksa pribadi untuk mengambil jalannya sendiri.  Kita simak lirik lagu Tanjung Mas Ninggal Janji: ...aku isih kelingan nalika neng pelabuhan/ kowe janji lungaora ana sewulan // nanging saiki wis luwih ing janji/ nyatane kowe ora bali-bali// ning pelabuhan Tanjung Mas kene/ mbiyen aku ngeterke kowe// ning pelabuhan Semarang kene/ aku tansah ngenteni kowe.

Dalam bahasa Indonesia kira-kira bermakna demikian: aku masih ingat ketika di pelabuhan / kamu berjanji pergi tidak sampai sebulan // namun sekarang sudah lebih dari janji / ternyata kamu tidak kunjung datang // di Pelabuhan Tanjung Mas ini / dulu aku mengantarmu // di pelabuan Semarang ini / aku setia menunggumu.

Pelabuhan adalah ruang publik yang penuh dengan kesibukan aktivitas bongkar muat barang dan naik turun penumpang (manusia), namun dalam lagu di atas Didi Kempot menarik kesadaran kolektif ke sebuah ruang sebagai persoalan pribadi penuh tragedi.

Kekasih yang ingkar janji menjadikan Pelabuhan Tanjung Emas, sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal, kenangan yang menyakitkan. Kita kemudian turut merevisi definisi Pelabuhan Tanjung Emas, yang selama ini hanya tempat berlabuhnya kapal, menjadi prasasti luka karena asmara.

Tempat-tempat itu diseret oleh Didi Kempot ke dalam urusan pribadi. Berbeda misalnya dengan lagu Hotel California yang dipopulerkan oleh grup band Eagles. Lagu sepanjang enam menit 30 detik tersebut berkisah tentang Hotel California di Amerika Serikat yang menjamu tamu dengan ganja dan obat-obatan terlarang.

Setiap hari, sepanjang hari, para tamu bebas berpesta di dalam hotel tersebut. Lagu ini digarap oleh Don Felderm, Glenn Frey, Don Henley (Akmal Mulyadi dkk.; 2013). Meskipun sama-sama mengetengahkan nama tempat, lagu Hotel California lebih cenderung menampilkan isu sosial daripada urusan pribadi layaknya yang ditampilkan Didi Kempot.

Menempatkan Diri

Di sinilah perbedaan itu tampak nyata. Sebagai seniman Jawa tulen, Didi Kempot sadar betul dalam menempatkan diri ketika mengemukakan protes terhadap situasi yang menerpa diri. Ia lebih memilih kembali ke dalam, melakukan koreksi diri, meskipun itu berat dan menyakitkan, daripada harus hadir sebagai tokoh penggerak yang mencoba mendominasi isu kolektif tertentu. 

Ada memang beberapa musikus di tanah air Indonesia yang mengetengahkan isu ruang (kota) sebagai latar cerita dalam sebuah lagu, namun tidak ada satu pun yang mampu menandingi daya imajinasi ruang milik Didi Kempot yang begitu produktif.

Ia lihai memainkan kata, mengetengahkan nama tempat sebagai bentuk kesadaran ruang, kemudian menyulamnya dengan memberi nama tokoh dan isu asmara dalam lantunan lagu yang ringan didengar dan mudah dihafal liriknya.

Richard Schacht dalam bukunya Alienasi: Sebuah Pengantar Paling Komperhensif(Jalasutra: 2005) mengungkapkan bahwa menurut beberapa sosiolog, kesepian dipahami sebagai suatu jenis alienasi. Mereka berpendapat teralienasi adalah merasakan kekurangan hubungan yang bermakna dengan orang lain dan merasa tidak bahagia dengan kekurangan itu.

Seseorang tidak termasuk dalam jenis teralienasi ini jika dirinya tidak merasa bahwa ia kekurangan hubungan seperti demikian itu; atau merasakan tidak terdapatnya hubungan tersebut, tetapi tidak merasa tidak gembira dengan keadaan tersebut; atau merasa terhubung secara bermakna dengan sebagian orang yang lain, meskipun tidak dengan semuanya.

Dalam lagu-lagu Didi Kempot, penggambaran tokoh yang kesepian sebab kekurangan hubungan yang bermakna dan perasaan yang tidak bahagia atas hubungan tersebut ditautkan dengan sebuah tempat yang jamak diketahui (nama tempatnya) oleh khalayak umum, baik fungsi maupun lokasinya.

Dari sini tampak bahwa penggambaran model alienasi yang diderita oleh si tokoh bukan hanya muncul akibat hubungan antarsesama manusia semata, namun si tokoh juga terkesan dicampakkan oleh ruang dalam latar cerita.

Ruang yang kerap menempati kedudukan sebagai objek cerita seolah-olah menjadi tertuduh selanjutnya setelah si kekasih (yang ingkar janji). Ruang tak lagi pasif, bukan sekadar tempat menampung aktivitas manusia. 

Ia subjek kedua yang dipaksakan masuk ke dalam imajinasi pendengar lagu-lagu Didi Kempot yang turut andil membentuk kenestapaan si tokoh yang teralienasi. Ingatan akan ruang (kota atau daerah) tertentu dalam lagu bisa jadi merupakan ikhtiar Didi Kempot untuk mengikat masyarakat dalam satu kisah yang dimiliki bersama.

Pantai, pasar, gunung, terminal, stasiun, pelabuhan, hingga jalan yang baru dibangun perlu memiliki kisah yang berdaya mengikat secara kolektif agar para pengunjung tak lekas jemu ketika terus-menerus menjumpai. Didi Kempot adalah maestro dalam hal ini, mencipta lagu berarti juga mencipta kisah.

Meski ia selalu terkesan kesepian dalam tiap lagu yang dia ciptaka, ia adalah manusia yang riuh oleh imajinasi ruang dan kisah asmara yang bisa dimiliki bersama. Semoga Didi Kempot berumur panjang agar lebih banyak lagi tempat yang ia sertakan dalam tiap lagu hingga kita bisa meraskan kebersamaan dalam suka dan duka lara sebuah kota.

 

Kolom 16 hours ago

Kiri Zaman Kini