Soal-Soal HOTS dalam Ujian Nasional

Bowo Sugiharto (Istimewa)
04 Mei 2018 16:35 WIB Bowo Sugiharto (UNS Solo) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (24/4/2018). Esai ini karya Bowo Sugiharto, dosen di Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah bowo@fkip.uns.ac.id.

Solopos.com, SOLO--Mulai tahun ini Ujian Nasional (UN) menggunakan soal-soal berkategori higher order thinking skills (HOTS). Higher order thinking skills sering diartikan sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Merujuk pada istilah ini, secara otomatis akan memunculkan dikotomi istilah. Istilah lain yang harus muncul adalah lower order thinking skills (LOTS), yaitu keterampilan berpikir tingkat rendah.

HOTS maupun LOTS mengacu pada ranah tujuan dalam pembelajaran. Ranah tujuan pembelajaran sering kali dibedakan menjadi tiga, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah kognitif merupakan ranah tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan otak atau kecerdasan.

Ranah afektif mengurusi tujuan pembelajaran dari sisi sikap. Sedangkan ranah psikomotor adalah tujuan pembelajaran yang berhubungan dengan keterampilan yang cenderung bersifat motorik.

Taksonomi ranah tujuan pembelajaran kognitif yang sering digunakan sebagai rujukan dalam pendidikan adalah taksonomi yang dikemukakan oleh Benjamin Bloom. Awalnya, dalam taksonomi Bloom, membuat jenjang kognitif ke dalam enam tingkatan,  yaitu C1 adalah knowledge atau pengetahuan; C2 adalah comprehension atau pemahaman; C3 adalah application atau penerapan; C4 adalah analyze atau analisis; C5 adalah synthesis atau sintesis; dan C6 adalah evaluate atau evaluasi.

Taksonomi Bloom ini direvisi muridnya, Anderson dan Krathwohl, pada  2001. Ranah kognitif bukan hanya dibedakan berdasarkan jenjangnya melainkan juga berdasarkan dimensinya, yaitu dimensi pengetahuan kognitif dan dimensi proses kognitif.

Dimensi pengetahuan kognitif dibedakan secara berjenjang, mulai pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Dimensi proses kognitif dikategorikan mulai dari C1 (remember, mengingat), C2 (understand, memahami), C3 (apply, menerapkan), C4 (analyze, menganalisis), C5 (evaluate, evaluasi), dan terakhir C6 (create, mencipta).

HOTS biasanya dikaitkan dengan dimensi proses berpikir mulai dari menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta (C4-C6). Kalau soal UN merepresentasikan HOTS, tentu soal-soal tersebut bukan hanya soal yang sekadar membutuhkan proses berpikir berupa mengingat, memahami, dan menerapkan (C1-C3).

Menganalisis adalah proses berpikir untuk mengenali sebuah kesatuan utuh sebuah sistem lalu mengurainya menjadi satuan-satuan atau komponen-komponen yang lebih kecil dan mengenali masing-masing bagian serta saling keterkaitannya dalam kesatuan yang utuh.

Mengevaluasi merupakan proses berpikir mengambil keputusan berdasar kriteria tertentu, baik kriteria internal maupun standar dari luar. Kemampuan berpikir yang paling tinggi adalah mengkreasi/mencipta. Kemampuan ini menunjukkan proses berpikir dengan menggunakan elemen-elemen untuk mewujudkan sesuatu yang baru.

Keterampilan berpikir yang paling tinggi ini jika sudah melekat pada seseorang maka disebut kreatif. Orang yang kreatif punya ide-ide baru yang segar dan cenderung produktif. Karakter kreatif dan produktif inilah yang akan menjadi modal bagi generasi yang hidup dan berkompetisi pada abad ke-21.

Barangkali inilah yang mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan soal-soal HOTS dalam UN. Pertimbangan lain kemungkinan adalah hasil survei bertaraf internasional terhadap kualitas siswa-siswa kita. Setidaknya ada beberapa yang dapat kita gunakan sebagai rujukan, misalnya Programme for International Students Assessment (PISA), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progres In International Reading Literacy Study (PIRLS).

PISA yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)diselenggarakan setiap tiga tahun sekali dan Indonesia ikut sejak 2000. Survei terakhir dilakukan pada 2015 dan hasilnya dirilis pada akhir 2016.

Sekalipun ada peningkatan dengan hasil survei sebelumnya (2012), pada survei 2015, pada tiga aspek yang diukur yaitu sains, membaca, dan matematika, masih menempatkan Indonesia pada peringkat  ke-6 dari bawah.

Pada survei 2012, Indonesia berada pada peringkat ke-2 dari bawah dari 76 negara peserta PISA. Peningkatan paling signifikan adalah pada aspek sains, lalu matematika, dan untuk aspek membaca belum mengalami peningkatan prestasi yang signifikan.

TIMSSdanPIRLSadalah survei yang dilakukan oleh The International Association for The Evaluation of Educational Achievement (IEA). TIMSS mengukur kemampuan matematika dan sains siswa SMP yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali. PIRLS mengukur kemampuan membaca siswa SD dan diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Hasil survei TIMSSdanPIRLS juga belum menggembirakan.

Kesenjangan

Secara umum prestasi siswa-siswa kita masih termasuk pada level rendah (low international benchmark), berada di bawah nilai median internasional. Tampaknya di sektor pendidikan masih banyak pekerjaan untuk berbenah. Siswa-siswa kita perlu belajar secara kontekstual, bukan sekadar tekstual.

Perlu mengurangi kesenjangan antara apa yang diperoleh di bangku sekolah dengan apa yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga perlu diajarkan untuk belajar cara belajar (learn how to learn) sehingga mempunyai fleksibilitas dan ketangguhan dalam menghadapi dinamika permasalahan riil dalam kehidupan sehari-hari.

Pelajaran dan evaluasinya juga perlu melatihkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). KemunculanHOTS pada soal-soal UN diharapkan menjadi pemicu dalam memperbaiki proses belajar mengajar di sekolah. Guru perlu berlatih memberdayakan kemampuan berpikir siswa. Evaluasi ditingkatkan pada akses HOTS.

Lebih jauh lagi, untuk menjawab tantangan era kompetisi yang semakin terbuka ini, selain HOTS proses pendidikan juga perlu menanamkan 4Cs competencies, yaitu communication, collaboration, critical thinking, and creativity.

Kompetensi dasar ini wajib dimiliki oleh insan pada abad ke-21 ini yang menjadi kunci terbentuknya kualitas sumber daya manusia pada abad ini, terlebih pada periode 2020-2030. Pembelajaran di sekolahan selayaknya meninggalkan cara belajar yang konvensional yang sekadar mengejar nilai dan mengabaikan kompetensi.

Soal-soal HOTS tentu mendorong proses pendidikan untuk mencetak generasi pemikir, bukan generasi penghafal. Hampir tidak ada gunanya kalau hanya hafal definisi, rumus, prinsip, dan hukum-hukum jika tidak mempunyai kemampuan menerapkan dalam menghadapi problem kehidupan sehari-hari.

Pada masa sekarang dan yang akan datang, negara yang unggul dalam kompetisi bukanlah negara yang sekadar mempunyai kekayaan sumber daya alam. Negara yang akan memenangi kompetisi adalah negara yang menguasai teknologi, negara yang mampu mendidik warganya untuk menjadi manusia pemikir.

Indonesia yang dahulu dikenal sebagai negara yang ayem tentrem kerta raharja, gemah ripah, loh jinawi akan semakin tumbuh menjadi raksasa yang ditakuti jika sumber daya  manusianya berkualitas. Jika sumber daya manusia kita tidak berkualitas, bisa jadi akan menjadi seperti “seekor ayam yang mati di lumbung padi”.

Kita tidak menjadi pemilik, melainkan hanya menjadi buruh di tempat kita sendiri. Kita hanya akan menjadi penonton, bukan pelaku yang mewujudkan kejayaan Indonesia karena telah dikuasi oleh orang lain. Mari kita tingkatkan kualitas pendidikan kita untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas demi eksistensi dan kejayaan negeri tercinta Indonesia.