Mi Ayam dalam Pengembangan Wilayah

Novie Syaiful Hidayat (Istimewa)
01 Mei 2018 08:00 WIB Novie Syaiful Hidayat (Pemkab Karanganyar) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (23/4/2018). Esai ini karya Novie Syaiful Hidayat, anggota Staf Perencanaan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah novie.syaiful@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Pada Kamis, 19 April 2018, pukul 07.32 WIB, akun Facebook dengan nama Angga Solixin mengunggah konten di akun grup Facebook Info Wong Karanganyar (IWK) berupa foto mi ayam dan teks pertanyaan,”Lur, menurutmu mie ayam langgananmu neng ndi? Tak cobane Lur... “ (Menurut Anda, mi ayam langganan Anda di mana? Akan saya coba).

Begitulah kira-kira maksud dari tulisan tersebut. Unggahan tersebut mendapatkan tanggapan yang luar biasa, dalam perspektif saya. Unggahan itu mendapatkan like lebih dari 1.400 dan komentar—sampai esai ini saya tulis pekan lalu--sebanyak 964.

Tanggapan beragam muncul dari warganet yang membaca tulisan tersebut. Sebagian besar warganet menjawab dengan nama warung makan mi ayam langganan mereka, tentu ditambahi apresiasi terhadap kelebihan warung mi ayam tersebut, baik rasa, menu pelengkap, suasana warung makan, dan pelayanan.

Sebagian warganet yang lain menanggapi dengan mengunggah foto warung makan mi ayam milik mereka sendiri, alias promosi. Sebagian kecil warganet yang lain memanfaatkan keramaian unggahan tersebut dengan mempromosikan usaha dan bisnis mereka walaupun tidak ada kaitannya dengan mi ayam.

Tanggapan yang diwarnai dengan nuansa jenaka, penuh kekeluargaan dan persaudaraan tersebut, tentu mendinginkan suasana Kabupaten Karanganyar menjelang pemilihan kepala daerah. Tanggapan warganet tersebut juga menunjukkan tiap wilayah, dari ujung timur sampai barat, dari ujung selatan sampai utara, di Kabupaten Karanganyar, terdapat warung mi ayam yang tentu memerlukan pembuktian empiris dengan penelitian lebih lanjut.

Mi ayam atau bakmi ayam adalah masakan Indonesia yang terbuat dari mi kuning yang direbus kemudian diberi bumbu dan kuah, serta ditaburi daging ayam dan sayuran. Mi ayam terkadang ditambah bakso, pangsit, dan jamur.

Partisipasi Aktif

Mi berasal dari Tiongkok tetapi mi ayam yang serupa di Indonesia tidak ditemukan di Tiongkok. Meskipun mi bukan asli Indonesia, nyatanya kini mi ayam seakan-akan telah menjadi makanan tradisional Indonesia. Makanan ini tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Keberadaan mi ayam di tengah masyarakat menjadi penanda banyak hal.

Pertama, keberadaan mi ayam mencerminkan stratifikasi sosial. Bilamana tempat makan yang ramai dikunjungi adalah warung mi ayam itu menunjukan kemampuan konsumsi masyarakat yang merepresentasikan strata sosial masyarakat dari golongan ekonomi menengah ke bawah.

Hal tersebut memang bisa dibantah dengan berbagai pendapat tentang selera konsumen dan kegemaran absolut atau bisa disebut dengan loyalitas konsumsi. Kebanyakan masyarakat Jawa yang merasa belum makan ketika belum makan nasi. Sebagian yang lain merasa belum makan kalau tidak pakai lauk tempe.

Sebagian lagi merasa tidak makan, kalau tidak ada cabai. Sebagian yang lain merasa belum makan siang kalau belum makan mi  ayam. Sebagian kecil yang ekstrem malah selalu berpandangan harus makan mi ayam di warung itu.

Kedua, keberadaan warung mi ayam dikaitkan dengan posisi. Warung mi ayam yang berlokasi di dekat tempat wisata dan ramai dikunjungi menandakan pengunjung tempat wisata tersebut kebanyakan adalah usia muda yang belum bekerja atau baru mulai bekerja. Mereka mencari tempat makan yang terjangkau secara finansial.

Ketiga, tentang mobilitas sosial secara fisik, yaitu perpindahan warga masyarakat dari satu tempat ke tempat yang lain. Keberadaan warung makan mi ayam menunjukkan bahwa pergerakan warga masyarakat dari satu tempat ke tempat yang lain tergolong tinggi secara intensitas, tetapi tergolong rendah secara jarak.

Artinya, masyarakat penggemar mi ayam memilih mi ayam sebagai alternatif konsumsi berdasarkan waktu penyajian dan keterjangkauan jarak sehingga tidak menghabiskan banyak waktu  untuk kembali bekerja dan menjalankan aktivitas lainnya. Aktivitas tersebut tergolong aktivitas harian sehingga intensitasnya tinggi.

Keempat, tentang solidaritas sosial. Kesediaan warga masyarakat bersama-sama menikmati mi ayam di dalam warung yang terbatas, berdesak-desakan, dan terkadang antre untuk mendapatkan tempat duduk mencerminkan semangat solidaritas sosial yang tinggi.

Ini menunjukkan kecenderungan wujud karakteristik masyarakat perdesaan, yaitu ruralisme. Menurut Soemardjan dalam buku karya Lutfi Muta’ali yang berjudul Pengembangan Wilayah Perdesaan (2013), ruralisme adalah tata hidup masyarakat yang berpegang kuat pada adat yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya tanpa banyak perubahan. Dalam ruralisme terdapat unsur-unsur kekeluargaan dan gotong royong.

Dari empat penanda tersebut bisa disimpulkan mengenai tingkat perkembangan wilayah Kabupaten Karanganyar yang masih berada pada tahap awal pertumbuhan, produksi masih sangat bergantung pada pertanian,  perkebunan, dan sektor produksi primer lainnya.

Di sisi lain indeks pembangunan manusia (IPM) di Kabupaten Karanganyar termasuk tinggi di Provinsi Jawa Tengah, hanya kalah sedikit dibandingkan Kota Solo yang tertinggi. Hal tersebut membuktikan pengembangan wilayah Kabupaten Karanganyar dilakukan dengan tepat, menggunakan sumber daya alam secara optimal melalui pengembangan ekonomi lokal.

Artinya kearifan lokal menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam proses pengembangan wilayah. Tidak semata-mata menjadikan industri dan ekspor serta impor menjadi satu-satunya indikator. Pendekatan yang sesuai tersebut, seharusnya diimbangi dengan peran serta masyarakat dalam pengembangan wilayah.

Keterlibatan masyarakat secara langsung bisa diwujudkan dengan pemanfaatan kemajuan teknologi. Masyarakat berperan aktif dalam memberikan pandangan-pandangan yang positif terhadap kemajuan wilayah sebagaimana aktifnya peran masyarakat dalam menanggapi konten tentang mi ayam di akun Facebook Info Wong Karanganyar (IWK).