Menjaga Ekosistem Taman Sriwedari

Yunanto Sutyastomo, Ketua Soeracarta Heritage Society. (Istimewa)
28 April 2018 21:30 WIB Yoenanto S (Soeracarta Heritage) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (27/4/2018). Esai ini karya Yunanto Sutyastomo, Ketua Soeracarta Heritage Society. Alamat e-mail penulis adalah emailku_nde@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO--Jaminan keberlanjutan kegiatan kesenian dan kebudayaan di Sriwedari masih jadi tanda tanya besar. Rencana pembangunan masjid dan program revitalisasi Taman Sriwedari jadi faktor utama penentu masa depan keberlangsungan kegiatan kesenian dan kebudayaan di Sriwedari.

Ramadan Ekstra - Promo Belanja Kebutuhan Lebaran 2018 - Tokopedia

Sebagai tempat berkesenian yang berada di tengah Kota Solo sebenarnya Sriwedari tidak sekadar tempat. Sriwedari memiliki ekosistem tersendiri terkait aktivas seni budaya serta eksistensi sebagai ruang publik. Para seniman dan budayawan yang hadir dalam dialog di Balai Kota Solo pada Rabu (25/4) lalu, membahas revitalisasi Taman Sriwedari, bersemangat menjaga eksosistem seni dan budaya di Sriwedari.

Sriwedari awalnya memang taman kota yang dibangun oleh Paku Buwono X. Taman kota ini lambat laun tumbuh menjadi tempat berkesenian dan berkebudayaan. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok kesenian yang sangat populer di Sriwedari dari dulu dan bertahan sampai saat ini.

Kemudian ada juga gedung bioskop yang memutar film yang sedang digemari masyarakat. Gedung bioskop tutup beberapa tahun lalu seiring rontoknya bisnis bioskop di seluruh penjuru negeri ini. Beberapa tahun terakhir Sriwedari dikenal sebagai simpul musik keroncong dan tari-tarian, baik yang sedang latihan maupun yang sedang pentas.

Simpul utama musik keroncong dan tari-tarian itu tentu saja Joglo Sriwedari. Ditambah dengan kegiatan seni di halaman Museum Radya Pustaka maka lengkaplah Sriwedari sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di tengah Kota Solo.

Itulah gambaran sederhana ekosistem di Sriwedari, suasana kehidupan yang terbuka bagi berbagai jenis kesenian, dan terbuka juga bagi masyarakat yang ingin hadir sekadar mampir atau ingin menikmati acara kesenian yang disajikan.

Kegiatan kesenian di Sriwedari membentuk wajah Sriwedari yang terbuka, cair, dan menjadikan masyarakat merasa memiliki ekosistem itu. Peran kegiatan kesenian di Sriwedari juga menjadikan Solo memiliki napas berkesenian yang khas, di antara tekanan-tekanan ekonomi dan perubahan kota yang sangat didominasi oleh hal yang berbau ekonomi kota masih memberi ruang untuk aktivitas seni budaya.

Aktivitas seni budaya di Sriwedari ini bukan sebuah aktivitas yang semata-mata bernilai komersial, namun lebih cenderung membangun kebersamaan warga kota. Eksistensi Sriwedari yang indah itu kini berhadapan dengan rencana revitalisasi yang salah satunya pembangunan masjid di tengah taman kota itu.

Tentu saja hal ini akan menimbulkan berbagai persoalan. Tidak hanya persoalan fungsi Sriwedari sebagai taman kota, tetapi juga persoalan sosial yang suatu saat akan muncul ketika tata ruang berubah. Tidak mudah bagi berbagai komunitas di Sriwedari menerima rencana tersebut.

Dalam diam berbagai komunitas belum bisa menerima rencana itu. Pemerintah Kota Solo mengetahui kegelisahan berbagai komunitas, lalu menawarkan Dalem Joyokusuman yang sedang dalam proses pembangunan sebagai alternatif pilihan bagi lokasi berbagai aktivitas kesenian. Komunitas yang selama ini hidup di Sriwedari dianjurkan berpindah ke Dalem Joyokusuman.

Hal ini tentu tidak mudah. Ini sama saja dengan memindahkan ikan yang hidup di air laut ke air tawar. Ekosistem seni dan budaya yang terbentuk di Sriwedari tidak begitu saja muncul, tapi melalui proses yang panjang. Ada semacam dialog serta adaptasi yang dilakukan berbagai komunitas di Sriwedari.

Faktor seperti inilah yang tidak disadari oleh Pemerintah Kota Solo. Pendekatan yang dilakukan Pemerintah Kota Soloa bersifat top down. Para aktor komunitas seni dan budaya di Sriwedari dianggap hanya memakai tempat. Mereka belum dihargai sebagai salah satu unsur pembentuk kehidupan di  Sriwedari.

Tanpa kehadiran mereka bisa saja kehidupan di Sriwedari tidak sedinamis sekarang ini. Persoalan Sriwedari ini membawa kita pada satu titik temu berbagai kepentingan pada suatu kota yang kadang kala mengabaikan kepentingan lebih besar, yakni kota sebagai milik warga kota, kota sebagai tempat yang bisa mengakomodasi semua golongan masyarakat yang tinggal di kota tersebut.

Kalau kita urai satu per satu berbagai kepentingan tersebut maka kita akan menemukan faktor yang dominan untuk mengubah sebuah kota. Dalam kasus Sriwedari mata kita tertuju pada kepentingan politik pemerintah lokal yang sesegera mungkin ingin menyelesaikan persoalan silang sengkarut kepemilikan lahan Sriwedari.

Pertentangan antara Pemerintah Kota Solo dengan ahli waris Wiryodiningrat yang berlangsung bertahun-tahun lamanya menjadikan Pemerintah Kota Solo ingin merampungkan sengketa itu secepat mungkin. Revitalisasi taman Sriwedari dengan pembangunan masjid di lingkungan Sriwedari merupakan janji politik wali kota yang selalu ditagih kepastiannya.

Dua faktor itulah yang membuat Pemerintah Kota Solo mencoba merealisasikannya tahun ini. Rencana itu mengabaikan salah satu unsur penting di Sriwedari, yakni para pelaku seni dan budaya di Sriwedari tidak pernah dilibatkan sejak awal.

Mereka ini hanya dilibatkan ketika rencana pembangunan masjid sudah matang dan konstruksinya hampir mulai. Pelibatan itu pun lebih cenderung untuk menjadi legitimasi bagi proyek revitalisasi Taman Sriwedari. Kasus ini sekaligus cerminan tidak adanya ruang partisipasi publik pada kepentingan publik yang sesungguhnya.

Negara yang dalam hal ini Pemerintah Kota Solo merasa Sriwedari merupakan miliknya. Pengertian  ini perlu dipertanyakan. Publik yang dalam kasus Sriwedari terepresentasikan pada masyarakat Kota Solo,  khususnya mereka yang terlibat dalam dinamika Sriwedari sehari-hari seperti para seniman dan budayawan, merupakan pemilik Sriwedari dalam sudut pandang yang mewakili publik.

Dialog

Pemerintah Kota Solo pada posisi ini hanya sekadar fasilitator proses dinamika di Sriwedari. Peran Pemerintah Kota Solo sebatas memfasilitasi kegiatan yang sebenarnya sudah berjalan di Sriwedari, bukan sebagai pihak yang menentukan jalannya aktivitas.

Cara pandang ini tentu saja berbeda dengan sudut pandang hukum yang penuh kepastian. Perspektif dalam melihat ruang publik sebagai milik publik yang sesungguhnya harus dilihat juga sebagai bentuk partisipasi publik yang membagun ruang publik.

Kegagalan memahami Sriwedari lahir dari kegagalan memahami ruang untuk publik. Pemerintah lokal tidak memosisikan diri sebagai pelayan publik, tapi seolah-olah sebagai representasi publik. Ketidakjelasan masa depan Sriwedari bisa dihindari dengan menjadwalkan kembali proyek revitalisasi yang akan dilakukan.

Langkah pertama adalah menghentikan semua kegiatan revitalisasi yang sifatnya fisik di Sriwedari. Hal ini penting karena pembangunan fisik yang berjalan akan menimbulkan persepsi lain di masyarakat. Sejauh ini pembangunan fisik memang belum dimulai, namun beberapa bangunan di Sriwedari telah diluluhlantakkan.

Hal lain yang harus dilakukan adalah dialog yang melibatkan semua pemangku kepentingan Sriwedari untuk mencari jalan keluar pengelolaan Sriwedari. Dialog ini sangat penting mengingat selain di Sriwedari telah tumbuh ekosistem seni dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan Kota Solo, Sriwedari juga telah menjadi cagar budaya tingkat kota sesuai Peraturan Wali Kota Solo tahun 2013 serta sedang diajukan menjadi kawasan cagar budaya tingkat nasional.

Proses dialog ini memang akan memakan waktu yang cukup lama dan pasti akan memunculkan banyak wacana baru tentang masa depan Sriwedari, tapi hal ini lebih baik karena dengan munculnya banyak gagasan akan membuat Sriwedari memiliki banyak pilihan tentang jaminan masa depannya.

Dialog akan memosisikan setiap pihak pada posisi yang sama. Tidak ada pihak yang berada di posisi lebih tinggi daripada yang lain. Alangkah baiknya juga setelah dialog atau selama dialog berjalan, Pemerintah Kota Solo mempertimbangkan berbagai pendapat dari beberapa orang yang kompeten di bidangya agar rencana revitalisasi Taman Sriwedari tidak hanya dilihat dari satu aspek.

Langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk mengawali dialog dalah duduk bersama yang melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan Sriwedari. Melacak jejak perkembangan Sriwedari dari satu dekade ke dekade berikutnya akan memudahkan dialog untuk merunut tujuan dari kehadiran Sriwedari dan peran Sriwedari bagi kehidupan masyarakat Solo dari waktu ke waktu.

Mengingat peran Sriwedari masa lampau kemudian melihat peran Sriwedari masa kini serta prospek Sriwedari masa mendatang menjadi langkah dialog berikutnya. Duduk bersama ini kiranya harus dimulai sebagai langkah bijak Pemerintah Kota Solo yang memiliki tanggung jawab mengelola kota yang nyaman bagi warganya.

Taman Sriwedari sangat penting bagi warga Kota Solo. Sriwedari merupakan ikon budaya Kota Solo yang menyimpan memori kolektif. Sriwedari adalah ruang publik tempat tumbuhnya komunitas seni dan budaya yang telah memiliki ekosistem yang kuat di tempat tersebut.