Warga Sidorejo Klaten Geliatkan Tanam Kopi Lewat Komunitas

Penanggung jawab kebudayaan Radio Komunitas Lintas Merapi, Sarjino, menunjukkan Kopi Petruk hasil olahan warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang belum lama ini. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
18 April 2018 00:20 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang kembali menggeliatkan menanam kopi di wilayah mereka. Kopi produksi warga setempat belakangan diburu para pecinta kopi dari berbagai daerah.

Bergeliatnya kembali penanaman kopi tersebut digagas oleh koordinator Radio Komunitas Lintas Merapi, Sukiman Mohtar Pratomo, sekitar 2014 lalu. melalui komunitas tersebut, kopi hasil tanam warga diolah dalam bentuk kemasan dengan nama Kopi Petruk.

Penanggung jawab penyiaran Radio Komunitas Lintas Merapi, Jenarto, mengatakan komunitas menggeliatkan pertanian kopi lantaran keprihatinan mereka atas hasil panen petani di desa setempat. Sidorejo pernah menjadi kawasan perkebunan kopi sejak zaman kolonial. Namun, beberapa tahun terakhir, pohon kopi ditebang warga lantaran mereka merugi hasil panen yang dijual di pasar dihargai murah.

“Dari situ komunitas menggeliatkan kembali. Para petani diarahkan untuk menjual ke komunitas hasil panen kopi yang masih tersisa. Kalau di pasar dihargai Rp3.000/kg, kalau dijual ke komunitas dihargai Rp6.000/kg,” kata Jenarto saat berbincang dengan Solopos.com belum lama ini di Radio Komunitas Lintas Merapi.

Hasil pembelian dari petani itu lantas diolah hingga menjadi produk bernama Kopi Petruk. Keuntungan dari penjualan kopi petruk digunakan untuk membiayai kegiatan komunitas.

“Dinamakan Petruk karena dalam pewayangan itu namanya Petruk Kantong Bolong. Kami mengambil filosofi kantong bolong itu setiap hasil yang diperoleh dikosongkan untuk dibagikan kepada yang lain,” katanya.

Tujuan utama dari pembelian dan pengolahan kopi guna edukasi ke warga. Warga yang menanam kopi diajari mengolah hasil panen mereka sebelum dijual mulai dari cara memetik, mengupas kulit, menjemur, memanggang, hingga menggiling. Peralatan pengolahan kopi di radio komunitas bisa dimanfaatkan warga untuk belajar mengolah hasil panen mereka. Hal itu dimaksudkan agar para petani mendapatkan keuntungan lebih.

“Setahun terakhir ini sudah banyak yang kembali menanam kopi,” urai dia.

Pelatihan ke warga itu dimaksudkan agar warga bisa mandiri dengan hasil jerih payah mereka dan tak tergantung dari bantuan pihak lain. Sejak erupsi 2006 dan 2010, banyak lembaga melakukan kegiatan di wilayah lereng Merapi termasuk Sidorejo.

Penanggung jawab kebudayaan Radio Komunitas Lintas Merapi, Sarjino, mengatakan produksi kopi Petruk tergantung pesanan. Saban bulan, rata-rata komunitas itu bisa memasarkan 40-50 kg kopi. Kopi dijual dalam bentuk kemasan jenis dark dan medium. Untuk kemasan 100 gram, dijual seharga Rp22.000 sementara 250 gram dijual Rp55.000. Selain dalam bentuk kemasan, kopi juga dijual dalam bentuk biji yang sudah dikeringkan seharga Rp250.000/kg. Selama ini, kopi produksi warga Sidorejo dipasarkan hampir menyeluruh di Pulau Jawa, Bali, hingga Jepang.

“Untuk pembelian dalam bentuk biji kami batasi maksimal membeli 2 kg,” ungkapnya.

Kepala Desa Sidorejo, Jemakir, mengatakan selama ini pertanian kopi kembali digeliatkan komunitas warga. Ia mengatakan ada gagasan untuk membuat warung-warung kopi untuk menggeliatkan potensi pertanian serta wisata yang ada di kawasan lereng Gunung Merapi itu.

“Sebenarnya sudah ada warung-warung untuk menikmati kopi namun memang belum bisa memberikan rasa nyaman. Ya mudah-mudahan tahun depan itu bisa direalisasikan,” tutur dia.

 

Kolom 1 day ago

Budaya Ngiras