Pembuang Bayi di Musala Giriwoyo Diyakini Bukan Orang Wonogiri

Bidan Dewi Mardiyanti, 41, menggendong bayi yang ditemukan di musala Demesan RT 002 - RW 004, Kelurahan Giriwoyo, Wonogiri, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Dewi Mardiyanti)
17 April 2018 21:35 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Aparat Polres Wonogiri belum menemukan titik terang dalam menangani kasus pembuangan bayi perempuan baru lahir  di salah satu musala wilayah Giriwoyo, Wonogiri. Polisi masih menyelidikinya.

Hasil penyelidikan sementara, polisi meyakini pelaku pembuang bayi itu bukan dari warga sekitar atau warga Wonogiri. Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede, saat ditemui wartawan di Sekretariat Daerah (Setda) Wonogiri, Selasa (17/4/2018), mengatakan aparat Polsek Giriwoyo telah menyiapkan beberapa langkah untuk mengungkap dan menangkap siapa orang tua bayi itu.

Salah satunya dengan menghimpun data ibu hamil (bumil) di desa-desa di Giriwoyo dan sekitarnya yang telah melahirkan. Informasi sekecil apa pun bakal sangat berguna untuk penyelidikan, terlebih apabila ada informasi terdapat bumil yang tiba-tiba perutnya kempis dan tidak diketahui keberadaan bayinya. Namun, hingga Selasa, polisi belum mendapat informasi yang bisa membuat terang penyelidikan.

“Kecil kemungkinan kalau ibu si bayi warga sekitar lokasi temuan. Jika pelaku orang dekat lokasi akan cepat diketahui. Ada kemungkinan pelaku dari wilayah lain, terlebih Giriwoyo merupakan wilayah perbatasan dan dekat dengan Pacitan [Jawa Timur],” kata Kapolres.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat orang tega menelantarkan bayi. Faktor itu seperti bayi hasil hubungan tak resmi atau faktor ekonomi. Kapolres bersyukur bayi yang ditinggalkan di teras Musala Darul Khoir dusun setempat RT 002/RW 004, Rabu (11/4/2018) petang, itu dalam keadaan sehat.

Nasib bayi tersebut lebih beruntung daripada bayi di daerah lain yang tragis karena ditemukan meninggal dunia. “Artinya, pelaku memang ingin bayinya dirawat orang. Tapi, bagaimana pun menelantarkan anak adalah tindak pidana,” ulas Kapolres.

Saat ini bayi itu dirawat Dinas Sosial (Dinsos) Pemkab Wonogiri. Informasi yang didapat Kapolres, banyak orang yang ingin mengadopsinya. Bahkan, tak sedikit orang yang menyampaikan niat mereka kepada polisi.

Kapolres menegaskan proses adopsi harus melalui prosedur yang sudah diatur, seperti tahapan untuk memastikan pengadopsi benar-benar mampu merawat anak. Bidan yang kali pertama merawat bayi, Dewi Mardiyanti, 41, mengatakan beberapa lama setelah ditemukan kondisi bayi itu secara umum sehat dan normal.

Hanya ada sedikit luka di pergelangan tangan kiri. Beratnya 2,3 kg atau di bawah ideal sehingga termasuk berat badan lahir rendah (BBLR). Berat bayi ideal minimal 2,5 kg. Dewi menduga hal itu karena bayi tidak mendapat perawatan yang layak setelah lahir.

Saat itu bayi masih memiliki tali pusat sepanjang 10 cm, tetapi tanpa plasenta. Bekas potongan tali pusat tidak beraturan. Kemungkinan dipotong menggunakan silet atau pisau. Selain itu kepala dan sekujur tubuh bayi masih ada darah segar. Dewi menduga saat ditemukan, bayi itu belum lama lahir, maksimal satu jam.