Istri Setnov Bantah Suaminya Bisa Buang Air Berdiri Pascakecelakaan

Setya Novanto membacakan pledoi pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (13/4/2018). (Antara - Wahyu Putro A)
16 April 2018 20:40 WIB Antara Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Istri Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor di pengadilan memberikan kesaksian mengenai kondisi suaminya beberapa saat setelah mengalami kecelakaan pada 16 November 2017. Dia menjelaskan tentang benjolan di kepala Setnov hingga keterangan soal Setnov yang mampu buang air berdiri saat itu.

"Saya sampai di RS Medika Permata Hijau sekitar pukul 20.30 WIB, satu jam setelah ditelepon Pak Fredrich karena saya agak nyasar," kata Deisti dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (16/4/2018).

Deisti bersaksi untuk dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo yang didakwa bekerja sama dengan advokat Fredrich Yunadi untuk menghindarkan ketua DPR Setya Novanto diperiksa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi e-KTP. Deisti yang datang bersama dengan empat teman ke RS itu mengaku menghindari kerumunan wartawan yang sudah memenuhi lobit.

"Saya masuk lewat lobi, tapi karena wartawan sudah banyak, saya tidak naik lift, tapi teman saya yang masuk lift jadi dia yang dikerubuti wartawan, saya sama satu teman saya naik tangga," ungkap Deisti.

Saat itu Setnov sudah berada di kamar perawatan di lantai 3 RS Medika Permata Hijau. "Saat saya masuk ada bapak dan ajudan, Reza (Pahlevi). Bapak sedang tidur, saya 'gitu-gituin' tidak bangun, sudah diinfus dan sudah diperban," kata Deisti sambil mencoba mempraktikkan tangan mencoba membangunkan Setnov.

Menurut Deisti, Setnov diperban di kepala bagian kiri dan tangan kiri tapi ia tidak mencoba membuka perban Setnov. "Kalau saya lihat perbannya ada benjolan, karena agak 'begini' tapi saya tidak buka perbannya, tidak ada bekas darah karena sudah ganti baju," ungka Deisti yang memeragakan ada benjolan di balik perban itu.

Saat ia ada di ruangan, Fredrich Yunadi, pengacara Setnov datang disusul oleh sejumlah orang Golkar dan keluarga Setnov sedangkan dokter Bimanesh Sutarjo baru ditemui pada 17 November 2017 sekiar pukul 09.00 WIB.

"Saat ditemui dokter Bimanesh, tensinya kurang bagus, agak tinggi sedikit. Saya lupa berapa tapi biasanya 140/90 saat itu lebih tinggi dari itu lalu dokter Bimanesh mengatakan harus diperiksa lebih lanjut karena RS Medika tidak punya alat yang lengkap sehingga harus dipindahkan ke RSCM yang punya alat CT scan dan saya ikut saja," jelas Deisti.

Deisti mengaku bahwa sebelum mengalami kecelakaan dan dirawat di RS Medika, Setnov sempat dirawat di RS Premier Jatinegara dan RS Siloam di bawah penanganan dokter Glen. Saat itu Setnov harus menjalani katerisasi. "Saat bapak bangun, dia hanya mengatakan pusing, malah saat saya menginap di situ dia beberapa kali muntah terus tidur lagi seperti tidak nyaman," tambah Deisti.

Deisti juga mengaku sempat membantu Setnov buang air kecil menggunakan pispot. Kesaksian Deisti itu berlawanan dengan kesaksian perawat RS Medika Permata Hijau Indri Astuti yang menyatakan bahwa Setya Novanto buang air kecil secara normal yaitu dengan berdiri pada 16 November 2017 pagi.

"Dia ingin buang air kecil saya kasih pispot, saya tidak lihat beliau berdiri, memang tidak berdiri pak hakim," tegas Deisti.

"Tapi kata perawat Setnov pernah kencing berdiri pagi harinya?" tanya ketua majelis hakim Makhfudin.

"Saya ketemu dokter perempuan dan satu perawat pukul 07.00 WIB, saya tidur di extra bed sebelah suami saya, dan ada juga saudara saya tidur di kamar yang sama, dia bangun pukul 06.00 WIB. Kalau dia buang air kecil berdiri, saya pasti bangun karena dia minta tolong untuk pipis ke saya," ungkap Deisti.

Tokopedia