Era Disrupsi Keolahragaan

Ilustrasi Sepak Bola (Solopos/Whisnu Paksa)
15 April 2018 07:10 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (7/4/2018). Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO--Tuntutan bertahan hidup pada era disrupsi adalah keniscayaan bagi siapa pun, untuk urusan apa pun, dan pada sektor mana pun. Disrupsi sebagai sebuah konsekuensi logis dari efek lompatan teknologi, terutama digitalisasi inovasi dan teknologi informasi, menghasilkan ekses sosial yang serbacepat dalam pola perubahan yang tidak linier.

Banyak yang kemudian membuat ”ancaman” dengan mengatakan hanya ada dua pilihan cara hidup pada era disrupsi, yaitu punah atau berubah. Berbicara tentang disrupsi, ada buku menarik yang layak menjadi rujukan yang ditulis Rhenald Kasali dengan judul Tomorrow is Today.

Inti sarinya adalah disrupsi sering dianggap ancaman, tapi tidak ada yang sadar kalau teknologi telah mengubah banyak hal. Perubahan akibat teknologi ini terjadi serempak di seluruh dunia, memengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia seperti pendidikan dan gaya hidup sampai model kepemimpinan.

Demikian pula keolahragaan, dalam makna yang lengkap tentu saja, sangat kental bersinggungan secara simultan dengan model pendidikan, gaya hidup, dan kepemimpinan. Setidaknya era disrupsi keolahragaan dapat terwakili oleh kajian dua dimensi.

Dua dimensi itu adalah sebagai instrumen untuk mendidik dan sebagai lokomotif pembentukan gaya hidup sehat (healthy life style). Untuk telaah disrupsi pada dimensi olahraga prestasi (elite atlet) diperlukan ruang tersendiri yang lebih khusus dan luas untuk membahasnya.

Dimensi keolahragaan sebagai model pendidikan telah diimplementasikan selama bertahun-tahun, bahkan telah berabad-abad oleh berbagai bangsa di seluruh penjuru dunia. Terdapat nilai universal yang dapat diambil sebagai benang merah model pendidikan keolahragaan, yakni olahraga sebagai alat untuk mendidik guna mencapai tujuan pendidikan pada umumnya melalui medium aktivitas jasmani yang terstruktur dan terprogram.

Pendidikan jasmani (physical education) kemudian memiliki lingkup yang makin meluas. Substansinya bukan terkungkung pada pilihan jenis sport semata, tetapi meluas pada lingkup aktivitas fisik (physical activity) yang dipilih karena memiliki nilai untuk mendidik pada ranah fisik, mental, dan sosial secara simultan dalam proses pembelajaran.

Bagaimanakah era disrupsi itu akan memberikan dampak pada dimensi pendidikan keolahragaan? Bongkar pasang kurikulim physical educatian di sistem persekolahan dunia yang telah lazim terjadi akan mengalami adaptasi yang lebih revolusioner lagi pada era disrupsi.

Kurikulum harus digeser tidak semata berorientasi kebutuhan secara ”internal”, tetapi penyesuaian  dilakukan karena tekanan secara ”eksternal” dan tututan nilai-nilai baru yang mengglobal. Pembentukan eksistensi dan daya saing peserta didik akhirnya menjadi keharusan untuk diformulasikan secara tepat, cepat, dan tidak linier.

Pembelajaran yang berbasis pemanfaatan teknologi terbarukan menjadi pilihan yang tidak bisa dihindarkan. Artinya adalah harus lebih banyak lagi menghasilkan tenaga pendidik yang kompeten dalam pemanfaatan pembelajaran keolahragaan berbasis teknologi tinggi.

Satu-satunya cara adalah mendorong guru dan calon guru mampu mengemban tugas dengan menguasai teknologi pembelajaran keolahragaan. Interaksi pedagogi guru dan peserta didik tidak terbatas jam pelajaran intra-kurikuler reguler, tetapi bisa terjadi tanpa berbatas ruang dan waktu (dalam jaringan atau daring).

Terjadi perubahan perilaku interaksi edukatif guru-peserta didik pada era disrupsi. Artinya guru harus menggeser cara mendidik dan mengajar. Praktik klise penyederhanaan metode yang selama ini acap kali diterapkan di kelas-kelas reguler akan semakin menyebabkan mutu pembelajaran tertinggal lebih jauh pada era disrupsi.

Nyaman di titik unggul saja akan segera ”tergilas” oleh perubahan, apalagi mempertahankan kenyamanan pada situasi yang selama ini masih jauh di bawah kondisi ideal.

 

Gaya Hidup Sehat

Olahraga telah dinobatkan sebagai lokomotif gaya hidup sehat dalam mengisi waktu luang yang secara umum mendominasi aktivitas rekreatif masyarakat dunia sejak dulu kala. Gaya hidup sehat menjadi pilihan dalam menghasilkan banyak nilai positif secara humanis.

Nilai positif paling populer adalah bahwa olahraga mampu mereduksi kemahalan biaya perawatan dan pengobatan akibat penyakit, olahraga juga berkontribusi pada aspek produktivitas kerja, semangat, passion, dan kekuatan relasi-relasi secara sosial.

Teknologi pasti menjadi kebutuhan masyarakat dunia yang memang selalu menuntut hidup lebih mudah. Teknologi dalam perjalanan sejarah dunia mengalami kurun keemasan, mulai dari kebangkitan teknologi generasi 1.0, generasi  2.0, generasi 3.0, hingga kini pada kurun teknologi generasi 4.0 yang dikenal dengan era disrupsi.

Sebelum datangnya teknologi generasi 4.0 sekarang ini kehadiran teknologi menghasilkan situasi paradoks yang berdampak pada gaya hidup olahraga yang kurang kondusif. Teknologi yang lahir untuk memudahkan cara hidup secara serta-merta juga menghasilkan habituasi kolektif masyarakat berperilaku budaya miskin gerak (budaya in-active).

Makna global berkemajuan teknologi memang artinya adalah hidup menjadi lebih mudah dan lebih enak, terutama secara fisik. Masyarakat dunia seharusnya tak boleh menutup mata lagi tentang fakta kemunculan penyakit degeneratif (non-infeksi) sebagai kondisi yang harus dibayar akibat terlenakan oleh kemajuan teknologi.

Haruskah keenakan cara hidup kemudian melahirkan kecenderungan semakin maraknya penyakit degeneratif/non-infeksi yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat serta kurang gerak (inactive) di masyarakat?

Trenpenyakit seperti hipertensi, obesitas, diabetes, jantung koroner, dan lain-lain tentunya harus menjadi penggugah betapa urgennya memperbaiki gaya hidup sehat di balik kenikmatan kemajuan teknologi yang memudahkan cara hidup.

Teknologi generasi 4.0 secara nyata ditandai oleh setiap individu memperoleh akses informasi yang berada di genggaman tangan. Kecepatan informasi, kelengkapan yang semuanya berbasis aplikasi, akan lebih memanjakan orang mengeksekusi pilihan-pilihan yang tersedia.

Kemungkinan buruknya mereka ”terjebak dalam lubang yang sama” mengulang pada hidup pada teknologi era sebelumnya, yakni bertambah malas karena terhipnotis dengan game dan aplikasi ”aktivitas olahraga” secara virtual yang sangat mudah mereka dapatkan tanpa harus keluar dari kamar tidur.

Lalu apa esensi utama era disrupsi keolahragaan? Intinya bahwa dalam dimensi instrumen pendidikan maupun dimensi lokomotif gaya hidup sehat, keolahragaan harus terbuka pada perubahan sekaligus menjadi aktor perubahan tersebut.

Pola pikir alih ilmu pengetahian dan teknologi keolahragaan yang dianggap pilihan desain kemajuan pada generasi teknologi sebelumnya, mungkin menjadi hal sangat usang yang tidak relevan pada teknologi generasi 4.0.

Pada dimensi gaya hidup sehat, teknologi informasi generasi 4.0 akan banyak ”menjebak” dengan menggunakan olahraga sebagai konten yang mungkin tidak memiliki nilai keperilakuan. Aplikasi teknologi membawa orang ”seolah-olah” berolahraga dengan menghadirkan sensasi-sensasi tetapi itu di dunia maya.

Mari menikmati bersama kemajuan teknologi tanpa harus merelakan diri menjadi masyarakat yang miskin gerak. Bukan hadirnya teknologi yang menyebabkan kita punah, tapi karena kita tak mampu berubah untuk keluar dari kondisi manja terninabobokan sebagai penikmat teknologi yang pasif.

 

 

 

Kolom 1 day ago

Budaya Ngiras