6 Versi Rusuh Suporter Berujung 1 Bonek Tewas

Sejumlah Bonek atau suporter Persebaya Surabaya berkumpul di Mapolsek Colomadu, Karanganyar, sebelum diantar ke Jogja. (Istimewa)
15 April 2018 14:20 WIB Redaksi Solopos Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Rusuh suporter berujung tewasnya seorang Bonek--pendukung Persebaya--Sabtu (14/4/2018) masih simpang siur. Kerusuhan terjadi seusai laga Persebaya vs PS Tira di Stadion Sultan Agung, Bantul, DIY. Hanya saja hingga kini lokasi kerusuhan masih simpang siur, baik kepolisian Solo maupun Bantul saling bantah di wilayah hukum mereka terjadi rusuh yang berujung tewasnya seorang bonek.

Suporter berinisial M, 17, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi, Jebres, Sabtu (14/4/2018). Sementara itu, satu suporter Bonekmania yang belum diketahui identitasnya, kritis masih dirawat di UGD RSUD dr. Moewardi, Jebres.

Berikut ini enam versi rusuh suporter berujung tewasnya seorang bonek:

Versi RSUD dr. Moewardi Solo

Kasubbag Hukum dan Humas RSUD dr Moewardi Eko Haryati kepada Solopos.com di rumah sakit, Sabtu, mengatakan satu orang suporter Persebaya Surabaya Bonekmania berinisial M, 17 meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi, Jebres, Sabtu (14/4/2018). Satu suporter Bonekmania yang belum diketahui identitasnya kritis masih dirawat di UGD RSUD dr. Moewardi, Jebres.

“RSUD dr. Moewardi didatangi 12 suporter Bonekmania dalam kondisi luka-luka pada pukul 03.30 WIB. Kami langsung memberikan perawatan intensif kepada mereka semua,” ujarnya.

Ia menjelaskan satu korban luka bernisial M, 17, meninggal dunia pukul 08.00 WIB. Korban meninggal dunia karena mengalami luka benturan pada bagian kepala. Rumah sakit sudah menghubungi keluarga dan sekarang dalam perjalanan dari Surabaya ke Solo untuk mengambil jasad korban.

“Satu suporter yang belum diketahui identitasnya dirawat di UGD. Diperkirakan usianya 17 tahun mengalami benturan pada bagian kepala. Kami mendapatkan informasi dari suporter mereka diserang warga di kawasan Yogyakarta,” kata dia.

Suporter Bonekmania, lanjut dia, yang sedang naik truk menuju ke Surabaya berhenti di Jl. Kolonel Sutarto, Jebres untuk membawa teman mereka yang luka parah ke RSUD dr. Moewardi.

Versi Kepolisian Solo

Kapolsek Jebres Kompol Juliana B.R. Bangun mewakili Kapolresta Kombes Pol. Ribut Hari Wibowo, membenarkan adanya kejadian meninggalnya satu suporter Bonekmania. Informasi sementara mereka naik truk kembali ke Surabaya dari Yogyakarta diserang warga saat berada di jalan kawasan Yogyakarta.

“Tidak ada bentrokan antara warga Solo dan suporter Bonek di Kota Bengawan. Kami melakukan pengawalan saat suporter menurunkan rekannya yang luka parah di depan RSUD dr. Moewardi,” kata dia.

Versi Kepolisian Bantul

Kapolsek Jetis, Bantul, AKP S Parmin, mengatakan setelah kerusuhan terjadi di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, beberapa personel turut mengawal korban kerusuhan berupa penusukan yakni M Yasin ke RS Nur Hidayat Jogja. M Yasin selamat dan sudah dijemput pulang oleh keluarganya.

Setelah itu, personel Polda DIY berkoordinasi dengan Polres Bantul dan Polsek Jetis untuk mengawal sekitar 4.000 supporter bonek pulang ke Surabaya. "Kami beserta Polres terjunkan delapan truk untuk mengawal mereka pulang sampai ke perbatasan Solo-Prambanan," kata Parmin saat dihubungi Harianjogja.com, Sabtu (14/4/2018).

Parmin mengatakan pengawalan selesai pada pukul 22.00 WIB. Selama di perjalanan, Parmin mengatakan semuanya kondusif dan tidak ada penyerangan dari pihak mana pun. "Polda DIY menyatakan kondisi kemarin kondusif," kata Parmin.

Namun, pada Sabtu pagi, seorang Bonek berinisial M, 17 meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi, Jebres, Solo. 

Versi Bonek

Bonek Surabaya membantah kerusuhan suporter terjadi di wilayah Jogja. Mereka mengungkapkan penganiayaan justru terjadi saat mereka masuk ke wilayah Kota Solo.

Anggota Bonek Surabaya Hasan Tiro mengatakan tidak ada penganiayaan di kawasan DIY saat perjalanan pulang. Penganiayaan terjadi di batas barat Kota Solo, tepatnya di Pasar Sidodadi atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Kleco, Jl. Slamet Riyadi, Karangasem, Laweyan, Solo.

Untuk kronologi kejadiannya, Hasan enggan membeberkannya saat ini. "Banyak simpang siur, untuk menghindarinya kami putuskan untuk adakan pertemuan akbar besok pukul 20.00 WIB agar semua jelas," kata Hasan saat dihubungi Harianjogja.com, Sabtu (14/4/2018).

Hasan menambahkan pertemuan akbar yang bertujuan untuk menyamakan persepsi atas kronologi yang terjadi. Setelah itu bonek akan memberi klarifikasi untuk menghindari simpang siur yang semakin parah. Seperti diketahui, Bonek yang tewas berinisial M, 17. Ia meninggal di RSUD dr. Moewardi  Solo pada Sabtu pagi.

Versi Brajamusti Sleman

Suporter PSIM, Brajamusti menegaskan kejadian penyerangan terhadap Bonek tidak terjadi di wilayah Jogja. Baik sebelum maupun setelah pertandingan, upaya pengamanan terus dimaksimalkan. "Terkait kejadian tersebut, kami bersikap netral. Karena kejadian itu [penyerangan Bonek] tidak terjadi di wilayah suporter kami," ujar Menko I Brajamusti, Erman Tino Handoko Mulyo saat dihubungi Harianjogja.com, Sabtu (14/4/2018).

Selama pertandingan antara PS Tira melawan Persebaya yang diselenggarakan di Stadion Sultan Agung, Bantul, sudah melalui tahapan pengamanan yang maksimal. Tino memaparkan koordinasi juga sudah dilakukan oleh pihak pengurus suporter PSIM, Persebaya, maupun dengan pihak keamanan dan kepolisian.

Tino menambahkan sebelum pertandingan pengawalan suporter sudah diupayakan dengan baik. Antara lain terkait dengan rute yang akan dilalui para Bonek dari Surabaya menuju Jogja, maupun sebaliknya saat mereka akan kembali ke kota asal. Selain itu, setibanya di Jogja, koordinasi terkait tempat menginap juga telah diupayakan.

"Mungkin yang terjadi di Solo dilakukan oleh warga yang mengatasnamakan suporter tertentu. Komunikasi dan koordinasi yang paling penting dengan pihak manapun, agar kejadian seperti ini juga tidak terjadi lagi ke depannya," papar Tino.

Versi Pasoepati Solo

Presiden Pasoepati Solo--pendukung Persis Solo--Aulia Haryo Suryo menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya suporter Persebaya Surabaya, Bonekmania, M. 17. Pasoepati mengaku sudah berupaya memberikan sambutan yang baik kepada mereka yang melewati Solo.

Rio, sapaan akrabnya, berkunjung ke RSUD dr. Moewardi untuk menemui keluarga korban dan petinggi dari Bonek, Cak Rijal. Rio menjelaskan meninggalnya satu bonek berusia muda itu di luar dari kuasa DPP Pasoepati. Menurutnya, Pasoepati sudah berusaha menyambut bonek yang singgah di Solo dalam perjanan menuju Jogja pada Jumat (13/4/2018).

"Kami masih berada di Kartasura pada Sabtu [14/4/2018] dini hari. Kepada bonek, kami membagikan sedikit jajanan untuk pelepas dahaga. Kami membubarkan diri karena menurut info yang kami dapat rombongan terakhir bonek sudah melewati Solo," ujar Rio saat dihubungi Solopos.com, Sabtu.

Rio tidak tahu menahu soal kronologi tewasnya satu anggota bonek itu karena baru mendapat kabar itu pada Sabtu pagi. "Saya sangat menyesalkan peristiwa itu. Mudah-mudahan ini yang terakhir. Saya berharap kepada manajemen Persebaya untuk ikut memikirkan keselamatan suporternya. Selama ini, kebanyakan bonek berangkat awayday dengan cara estafet dari satu truk ke truk lainnya. Itu terlalu berisiko," papar Rio.

Saat bertemu Rio di RSUD dr. Moewardi, Cak Rijal menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Solo bila bonek membuat resah. Cak Rijal, kata Rio, mengaku akan menggalang dana untuk membayar ganti rugi kepada warga Solo yang merasa dirugikan akibat ulah bonek.