Jika Facebook Diblokir, yang Kena Dampaknya "Online Shop Tradisional"

CEO Facebook, Mark Zuckerberg (Fortune.com)
13 April 2018 04:30 WIB Hijriyah Al Wakhidah Nasional Share :

Solopos.com, SOLO — Beragam opini disampaikan pelaku bisnis online terhadap ancaman pemerintah memblokir platform media sosial Facebook akibat skandal penyalahgunaan data lebih dari 1 juta akun di Indonesia oleh Cambridge Analytica. Ada yang khawatir, namun adapula yang tenang-tenang saja karena masih bisa memanfaatkan media sosial lain.

Seorang pelaku usaha online shop di Solo, Lulu, mengatakan Facebook adalah salah satu medsos yang paling efektif menjaring calon pelanggan karena di Facebook si penjual bisa melihat secara detail potensi calon pelanggannya.


“Dengan masuk ke fanpage yang besar-besar, itu akan kelihatan sekali antusias calo pelanggan, baik dari komentar maupun like. Kami juga bisa melihat potret orang-orang yang berinteraksi, apakah mereka calon pelanggan potensial, belanjanya di mana saja, karena data-data di Facebook itu sangat lengkap,” kata Lulu, yang juga punya toko di Beteng Trade Center.

Memang, kata dia, masih banyak medsos lain yang bisa dimanfaatkan selain Facebook, termasuk iklan. Lulu selama ini lebih banyak bermain iklan (add) dan beriklan di media sosial lain selain Facebook.

Karena itu, kata dia, pelaku usaha online yang bakal paling susah menghadapi pemblokiran Facebook adalah pemain online shop tradisional yang berburu pelanggan melalui sosial media dengan cara manual. Yang dia maksud adalah pelaku online shop yang tidak paham cara beriklan, belum paham bagaimana mendapat endorsement, atau memanfaatkan aplikasi-aplikasi lain yang sistemnya lebih rumit daripada di Facebook.

Bagi pelaku usaha seperti Lulu, medsos memang jadi jujugan utama saat ini karena dia bisa menjual produk hingga ke seantero Indonesia. “Saya punya banyak reseller di Papua, Riau dan luar Pulau Jawa lainnya. Kalau nggak lewat medsos nggak bisa pasar bisa seluas itu. Dan enaknya, dengan jualan ke luar Pulau Jawa, kami mau cari untung sampai Rp100.000 pun gampang. Coba kalau dijual pasar offline Solo misalnya, apa bisa, cari untung Rp50.000 saja mikir-mikir laku apa nggak.”

Sementara itu, pemilik Kimkin Babyshop, Anggit Nawangsari, sedikit was-was dengan rencana pemblokiran Facebook. Sampai saat ini dia masih fokus di Facebook, itupun dengan cara manual. “Nggak pakai FB Add, jadi ya paling nanti memaksimalkan Instagram, Line, atau WhatsApp. Persoalannya kalau Instagram agak susah, postingan hanya bisa dilihat dari 10 persen follower,” ujar Anggit.

Dia berharap ancaman pemerintah memblokir Facebook tidak terealisasi mengingat pelaku usaha yang saat ini menyandarkan bisnisnya di Facebook sangat banyak.