Selain Premium & Solar, Pertamina Juga Mengaku Rugi Jual Pertalite

BEM UPI mendorong motornya saat melakukan aksi tolak kenaikan harga BBM di depan kantor Pertamina, Bandung, Rabu (4/4 - 2018). (Antara/Raisan Al Farisi)
11 April 2018 06:30 WIB Denis Riantiza Meilanova Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rencana pengaturan harga jenis BBM umum atau nonsubsidi berpotensi mengganggu bisnis PT Pertamina (Persero). Perusahaan pelat merah itu kini mengklaim juga merugi dari penjualan Pertalite.

Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan saat ini Pertamina pun sudah merugi dengan menjual BBM jenis Pertalite seharga Rp7.800. Harga tersebut belum mencapai harga keekonomian yang seharusnya sebesar Rp8.000.

Karena itu, dia menilai pengaturan harga BBM nonsubsidi dapat mengganggu bisnis Pertamina. "Pasti [terganggu], tapi nominal segala macam belum ngitung," ujar Iskandar di gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Di samping itu, Pertamina juga telah menanggung kerugian dari penyaluran Premium dan Solar bersubsidi sebesar Rp5,5 triliun selama Januari-Februari 2018. Dia merinci bila dikurangi dengan keuntungan yang diperoleh dari penjualan BBM nonsubsidi, total rugi bersih Pertamina selama 2 bulan sebesar Rp3,9 triliun.

Iskandar mengaku besaran kerugian tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan kerugian perseroan pada periode yang sama tahun lalu. "Karena kami rugi dari sebelumnya kan untung masih. Ini kami betul betul minus," katanya.

Kendati demikian, pihak Pertamina belum bisa merespons lebih jauh terkait kebijakan baru pemerintah tersebut. Iskandar mengatakan pihaknya masih menunggu Peraturan Presiden
ditetapkan.

"Kami belum lihat dampaknya karena belum teraplikasi belum bisa berandai andai-andai, tapi secara logika ‎ada. Tapi kita belum bisa tau apa iya," katanya.