Kota Solo sebagai Panggung

Sugeng Riyanto (Istimewa)
07 April 2018 05:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (4/4/2018). Esai ini karya Sugeng Riyanto, Wakil Ketua Komisi III dan Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah ust.sugeng@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Ada pepatah yang lazim diucapkan warga New York, Amerika Serikat, yaitu every corner at New York is a stage. Pepatah ini mengandung muatan kebanggaan warga New York khususnya dan warga Amerika Serikat umumnya tentang kota mereka.

Setiap sudut dari kota ini adalah panggung. Makna panggung tentu saja dalam konotasi yang luas. Setiap sudut di mana pun di kota ini bisa dijadikan sarana untuk mementaskan segala sesuatu. Setiap sudut tertata dengan baik, indah, bersih, nyaman, layak untuk berswafoto, dan layak dijadikan tempat mengeksplorasi ide dan gagasan.

Setiap sudut bisa menumbuhkan inspirasi. Hal inilah yang menjadikan New York sebagai kota yang sangat tinggi tingkat kunjungan turisnya. Ada kebanggaan bagi warga mancanegara ketika mengunjungi New York dan mengabadikan dalam foto atau video di sudut mana pun di kota itu.

Dalam konteks lokal Kota Solo, mampukah Pemerintah Kota Solo dan warga Solo menjadikan kota mereka sebagai kota yang setiap sudutnya adalah panggung? Dulu, saat Joko Widpdp masih menjabat Wali Kota Solo pernah mengenalkan visi akan membawa Solo sebagai kota yang sejajar dengan kota-kota di negara maju di Eropa maupun Amerika.

Dia tentu memiliki keyakinan bahwa Kota Solo sangat berpotensi menjadi kota yang sejajar dengan kota-kota di luar negeri karena Kota Solo memang memiliki instrumen pendukung yang memungkinkan. Apa saja instrumen itu?

Pertama, instrumen budaya. Dalam konteks budaya, Solo memiliki dua mainstream budaya, yakni budaya yang tangible dan budaya yang intangible. Budaya yang bersifat bendawi dan budaya yang bersifat nonbendawi.

Solo memiliki keraton yang sesungguhnya megah dan madolke jika ”dijual” sebagai panggung artistik nan inspiratif. Di luar negeri, istana atau keraton menjadi destinasi wisata yang sangat populer. Ketika di keraton sedang ada acara dan itu "dijual" kepada turis, semacam makan malam bersama raja, pasti sangat banyak yang berminat meski dengan tiket mahal.

Solo adalah tempat kelahiran seorang desainer busana kondang, Anie Aviantie, yang terinspirasi menjadikan keraton sebagai panggung untuk memamerkan busana karya dia dan ternyata mendapatkan apresiasi yang sangat meriah. Solo juga memiliki Pura Mangkunegaran yang juga megah.

Secara rutin acara Solo International Performing Art (SIPA) atau Mangkunegaran Performing Art yang diadakan di kawasan Pura Mangkunegaran sebagai panggung terbukti selalu sukses menyedot perhatian pengunjung.

Solo juga punya Benteng Vasternbrugh yang juga sering dieksplorasi sebagai panggung untuk menampilkan berbagai acara. Belum lagi kawasan Sriwedari, Taman Balekambang, Taman Satwa Taru Jurug, Monumen ‘45 Banjarsari, puluhan pasar tradisional, super market, serta banyak lagi.

Semua itu adalah tempat-tempat yang bisa menginspirasi dan sangat menunjang untuk mengeksplorasi ide. Terlalu banyak warisan budaya bertebaran di Solo. Kota Solo dikenal sebagai kota batik dan kota ini punya Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman.

Solo juga memiliki Museum Keris sebagai wujud bahwa keris adalah bagian tak terpisahkan dari budaya kita yang bahkan sudah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya dunia. Aneka jenis tarian, lagu, dan musik tradisional semuanya menawarkan kekhasan yang unik. Demikian juga wayang, baik wayang orang maupun wayang kulit, ketoprak dan aneka seni hiburan. Intinya, terlalu banyak budaya lokal Solo yang sangat potensial menjadikan Solo sebagai kota yang mendunia.

Tidak ketinggalan kuliner Solo. Sudah diakui secara nasional masyarakat internasional, bahwa kuliner Solo sangat terkenal. Menu-menu khas yang tidak ada di tempat lain semacam serabi, thengkleng, nasi liwet, pecel ndesa, cabuk rambak, dan lain sebagainya adalah kekhasan yang bisa membuat siapa pun memiliki kesan yang baik terhadap Solo.

Masakan Solo dikenal enak dan murah. Di kalangan rakyat jelata ada warung hik atau angkringan yang juga menawarkan suasana yang bikin kangen bagi siapa pun yang pernah tinggal di Solo dan kini sedang berada di tempat lain.

Kedua, instrumen infrastruktur. Sebagai kota yang sempit, hanya seluas 44 kilometer persegi, Kota Solo boleh dikatakan memiliki infrastruktur yang cukup memadai. Interkoneksi antarberbagai moda transportasi juga tersedia. Terminal tipe A yang merupakan tipe terminal kelas 1 yang cukup megah, Terminal Tirtonadi, tersambung dengan Stasiun Kereta Api Solo Balapan melalui sky bridge.

Stasiun Balapan terkoneksi dengan Bandara Adi Soemarmo melalui kereta api yang sebentar lagi selesai pembangunannya. Ini adalah salah satu visi jangka panjang untuk menjadikan kota ini menjadi kota yang aksesibel dengan berbagai moda transportasi publik.

Mengunjungi Solo berarti bisa memilih moda transportasi yang paling sesuai atau mengombinasikannya. Hotel dan penginapan di Solo sangat beragam dan jumlahnya sangat memadai. Ada hotel yang bernuansa heritage sampai yang bernuansa modern, dari berbintang satu sampai berbintang lima, semua ada.

Ketiga, instrumen sumber daya manusia. Presiden Republik Indonesai saat ini adalah warga Solo. Tak ada yang bisa membantah. Banyak politikus, budayawan, seniman, atlet, dan tokoh-tokoh terkenal lainnya yang berasal dari Solo.

Artinya sumber daya manusia di Kota Solo sangat menunjang untuk menjadikan Solo sebagai kota yang layak diperhitungkan. Di Solo juga bertebaran tempat pendidikan dan kampus baik negeri maupun swasta yang mendidik sumber daya manusia unggul.

Keempat, instrumen posisi geografis. Solo adalah kota dengan keramaian, hiruk pikuk, panas dan debu, serta berbagai jenis polusi, tapi jika menginginkan suasana alam yang sejuk tak perlu waktu lama, cukup berkendara 40 menit ke arah timur sampailah di Tawangmangu, daerah pegunungan yang sejuk dan asri, atau perkebunan teh di Kemuning yang menyegarkan.

 

Jauh ke Depan

Di sebelah barat ada Gunung Merbabu dan Gunung Merapi yang juga menawarkan keindahan tersendiri. Satu kondisi alam yang juga menjadi berkah bagi Solo adalah, Bengawan Solo. Sang maestro musik keroncong Gesang berhasil memopulerkan sungai ini ke seantero jagat melalui lagu Bengawan Solo.

Pernah suatu ketika ada pertemuan parlemen Asia di Solo, Asian Parliamentary Assembly (APA) pada 2011. Para peserta sangat penasaran dengan Bengawan Solo yang sangat masyhur. Mereka kemudian melihat langsung seperti apa sebenarnya sungai legendaris itu.

Sayangnya, saat itu bertepatan dengan musim kemarau sehingga air Bengawan Solo sedikit dan kondisinya apa adanya, kalau tidak boleh dikatakan belum mendapatkan sentuhan untuk menarik minat wisatawan luar negeri.

Kelima, instrumen sejarah. Sejarah pra kemerdekaan sejak jaman kerajaan-kerajaan, sejarah pergerakan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, sejarah pembuktian kesaktian ideologi Pancasila, sejarah keolahragaan, sejarah pers, sejarah tentang seni budaya, sejarah pendidikan, dan masih banyak lagi tema sejarah tak bisa dilepaskan dari Solo.

Di kota dengan kekayaan sejarah yang sedemikian ini sangat mubazir jika pemerintahannya tidak mampu mengelaborasi lokasi-lokasi bersejarah itu. Sesungguhnya tiap lokasi adalah panggung-panggung sejarah yang harus diperkenalkan kepada generasi bangsa secara terus-menerus.

Menjadi kewajiban Pemerintah Kota Solo menjaga dan melestarikan semua tempat itu, bukan malah menjadikannya bias dan luntur. Sriwedari adalah contoh di antaranya.     Keenam, instrumen politik, yakni political will untuk menjadikan Kota Solo sebagai kota yang mendunia.

Tanpa kemauan yang didasari kemampuan tentu tak akan bisa mewujudkan hal-hal tersebut. Semua instrumen sesungguhnya cemepak sampai pada instrumen yang berupa kekuasaan tertinggi di negara kita, Presiden Indonesia berasal dari Solo.

Kita hanya bisa menunggu realisasinya. Pemerintah Kota Solo seharusnya tidak lagi bicara hal-hal primer terkait kebutuhan sandang pangan warga, tetapi sudah sampai pada pemikiran jauh ke depan menjadikan kota Solo sebagai kota berstandar kota terkenal di dunia.

Kini harus segera dimulai gerakan menjadikan setiap pojok Kota Solo adalah panggung, yang menginspirasi, memanjakan eksplorasi ide, dan nyaman serta membanggakan untuk diunggah di semua media sosial. Warga Solo niscaya bisa dengan bangga mengatakan  every corner at Solo is a stage.

 

Kolom 1 day ago

Budaya Ngiras