Infrastruktur Seni di Kota Solo

Bambang Irawan (Istimewa)
06 April 2018 05:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (3/4/2018). Esai ini karya B.R.M. Bambang Irawan, Kepala Pusat Studi Pariwisata Lembaga Penelitian dna Pengabdian pada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (Puspari LPPM UNS) dan Ketua Dewan Kesenian Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah bmbirawan@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Pada awal 2017 lahir Dinas Kebudayaan di Kota Solo. Pada Mei 2017 lahir UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dua hal ini menarik untuk diamati karena sejak lama kota Solo menjadi barometer budaya Jawa, terutama di bidang kesenian.

Dari tujuh jenis kelompok event kota yang diselenggarakan pada 2013-2017, sekitar 90% mengandalkan kesenian sebagai sumber daya pendukung. Apakah semua bentuk kesenian yang ditampilkan tersebut benar-benar berbasis pada sumber daya seni dan budaya yang hidup di masyarakat Kota Solo atau malah masyarakat Kota Solo hanya berperan sebagai penonton?

Pertanyaan tersebut bermuara pada permasalahan mendasar mengenai membangun infrastruktur berkesenian di Kota Solo agar dapat menciptakan budaya hidup yang berupa aktivitas berkesenian dan produk kesenian bagi warga Kota Solo.

Esai ini sekadar berbagi gagasan mengenai upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk membangun infrastruktur berkesenian di Kota Solo. Infrastruktur berkesenian yang utama adalah sanggar-sanggar seni, komunitas seni, grup-grup kesenian–selanjutnya saya sebut sebagai sanggar seni–yang tersebar seantero kota, termasuk berbagai sanggar seni yang melekat dengan kegiatan ekstrakurikuler di sekolahan.

Keberadaan sanggar, komunitas, dan grup seni ini merupakan ”industri” yang memproduksi sumber daya pelaku seni berikut kreativitas dan inovasi seni yang berkelanjutan di Kota Solo. Kebanyakan seniman senior–katakanlah penari senior–di Kota Solo adalah ”produk” sanggar-sanggar seni.

Sedemikian pentingnya sanggar seni maka dibutuhkan konsep, strategi, dan program yang komprehensif dan tepat untuk membina, mengembangkan, memberdayakan, menumbuhkan, memonitor, mengevaluasi, serta memberikan apresiasi terhadap sanggar-sanggar seni.

Salah satu tujuan dari konsep, strategi, dan program yang komprehensif dan tepat ini adalah agar pendanaan APBD untuk memajukan kesenian menjadi efektif dan tepat sasaran. Sangat terkait dengan infrastruktur berkesenian berupa sanggar seni adalah data sanggar seni. Dibutuhkan basis data yang sahih, reliabel, dan dimutakhirkan secara berkala.

Data yang sahih, reliabel, dan dimutakhirkan secara berkala ini juga menjadi basis dalam pembuatan kebijakan sehingga berbagai program yang diciptakan tidak terjebak pada rutinitas  belaka. Basis data sanggar seni ini harus dapat diakses secara terbuka oleh para pemangku kepentingan dan publik dan didorong agar berbentuk digital.

Digitalisasi peta sumber daya kesenian ini akan membantu memerkukuh positioning, branding, dan visi Kota Solo sebagai kota budaya. Infrastruktur kedua adalah lembaga pendidikan seni formal. Kesadaran pentingnya infrastruktur lembaga pendidikan seni formal ini telah dimunculkan oleh budayawan dan seniman Solo pada masa lalu.

Bersama dengan Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan waktu itu membidani berdirinya Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) pada 1950 yang menjadi cikal bakal SMKI dan kini menjadi SMKN 8 Solo. SMKI ini menjadi tonggak sejarah bagi lembaga pendidikan formal seni yang melahirkan para seniman profesional yang dididik secara modern dan metodis.

Sangat berbeda dengan para seniman karawitan maupun tari yang dihasilkan dari metode belajar nyantrik pada masa lalu. Kemudian lahir perguruan tinggi seni di Solo, ASKI, lalu STSI, dan kini ISI Solo. Sebagian besar dosen adalah alumni SMKI Solo.

Beberapa tahun terakhir muncul lembaga pendidikan seni formal seperti Akademi Seni Mangkunegaran (Asga) yang merupakan prakarsa warga masyarakat yang peduli pembangunan bidang kesenian dan kebudayaan di Solo.

Makin banyaknya lembaga pendidikan musik di Solo menunjukkan infrastruktur berkesenian di Solo makin lengkap. Meski berbagai lembaga pendidikan seni tersebut memiliki cara tersendiri dalam mempromosikan lembaga masing-masing, ada baiknya pemerintah kota berperan serta mempromosikan lembaga pendidikan seni ini–terutama yang konten utamanya adalah seni tradisi–kepada para siswa di kota Solo.

Harapannya agar mereka yang memiliki talenta dan berminat berkarier di bidang kesenian dapat melanjutkan pendidikan ke lembaga pendidikan seni seperti SMKN 8, ISI Solo, maupun Asga.  Kerja sama pemerintah kota dengan lembaga pendidikan seni ini perlu ditingkatkan, terutama dalam upaya mempertahankan dan melestarikan seni tradisi gaya Solo.

Infrastruktur ketiga adalah Keraton Solo dan Pura Mangkunegaran. Kota Solo sangat beruntung karena mewarisi taken for granted dua institusi budaya yang masih hidup dan menjadi rujukan utama dalam berkesenian, yaitu Keraton Solo dan Pura Mangkunegaran.

 

Panggung Apresiasi

Dua lembaga inilah yang merupakan cikal bakal tumbuh kembangnya kesenian–terutama kesenian tradisi–di Solo. Selama ini banyak bantuan dari pemerintah kota dalam upaya memajukan kesenian di dua istana tersebut, misalnya melalui pengiriman peserta ke Festival Keraton Nusantara, Keraton Surakarta Art Festival, Mangkunegaran Art Festival.

Tentu masih perlu ditingkatkan kualitas fasilitasnya, terutama dalam pemberdayaan agar dua istana ini dapat melakukan konservasi, preservasi, dan pengembangan seni istana secara berkelanjutan. Pola pemberdayaan kesenian istana ini menjadi pekerjaan tersendiri bagi kedua istana tersebut maupun bagi pemerintah kota.

Infrastruktur keempat adalah panggung apresiasi. Panggung apresiasi dibutuhkan sebagai wahana unjuk produk hasil proses berkesenian warga kota. Panggung apresiasi yang dimaksudkan adalah panggung fisik yang visibel untuk menampilkan berbagai produk berkesenian warga Kota Solo.

Kota Solo belum memiliki gedung kesenian yang representatif bagi berbagai seni pertunjukan maupun eksibisi modern. Rencana pembangunan Gedung Wayang Orang Sriwedari yang baru, modern, dan multifungsi merupakan angin segar bagi pembangunan infrastruktur berkesenian Kota Solo.

Dalem Joyokusuman di Kampung Gajahan yang telah resmi menjadi milik Pemerintah Kota Solo juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan berkesenian bagi warga kota. Di Solo juga ada Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) yang memiliki berbagai fasilitas panggung apresiasi.

Lembaga ini memiliki program-program memfasilitasi berbagai kegiatan dan produk kesenian warga propinsi Jawa Tengah, bukan khusus bagi warga Kota Solo. Kini TBJT cenderung makin berorientasi bisnis dalam mengelola fasilitas.

Solo sebagai kota pusaka juga memiliki banyak arsitektur lama dan situs-situs bersejarah yang menarik secara artistik untuk dipakai sebagai lokasi berbagai event.

Tidak jarang pemanfaatan arsitektur lama dan situs-situs bersejarah ini mengokupansi utilitas publik seperti jalan umum yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Panggung apresiasi seni seperti ini perlu mendapatkan perhatian dan penataan yang lebih baik.

Infrastruktur kelima adalah peraturan yang mendukung berbagai kegiatan berkesenian di Solo. Infrastruktur ini disebut sebagai infrastruktur nonfisik. Dalam UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan seni adalah satu dari 10 objek pemajuan kebudayaan.

UU ini mengamanatkan penyusunan pokok pikiran kebudayaan daerah kabupaten/kota yang nantinya berjenjang hingga pokok pikiran kebudayaan daerah provinsi yang menjadi dasar penyusunan strategi kebudayaan yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan rencana induk pemajuan kebudayaan.

Lima bentuk insfrastruktur berkesenian di atas–kecuali pokok-pokok pikiran kebudayaan–sebenarnya relatif telah dimiliki Kota Solo. Tentu asih dibutuhkan upaya keras yang sistematis, komprehensif, dan berkesinambungan dalam konteks membangun infrastruktur berkesenian agar makin lengkap, kuat, mapan, dan berdaya dalam fungsi sebagai fondasi terselenggaranya kegiatan berkesenian warga kota.

Upaya ini perlu dilakukan beriringan dengan pembangunan suprastruktur atau sarana berkesenian yang sedang berjalan, antara lain bantuan gamelan untuk setiap kelurahan, agar infrastruktur/prasarana dan suprastruktur/sarana berkesenian bagi warga Solo makin lengkap dan memadai.

Pada gilirannya Kota Solo akan benar-benar menjadi panggung ekspresi seni yang berbasis sumber daya seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakatnya sendiri.

 

 

Tokopedia