Hari Lahir Persis

Ardian Nur Rizki (Istimewa)
05 April 2018 05:20 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (2/4/2018). Esai ini karya Ardian Nur Rizki, alumnus Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret, kini sedang menulis buku Pustaka Sepak Bola Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah ardian1923@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO--Hari lahir Persis Solo sempat menjadi teka-teki pelik. Publik hanya meyakini Persis dibentuk pada 1923. Hari jadi atau tanggalnya masih menjadi misteri. Pada tahun 2013, laman pasoepati.net mewartakan hari lahir Persis jatuh pada 8 November 1923.

Kepastian ini didapat melalui sumber primer berupa surat kabar sezaman yang berhasil diperoleh kontributornya dari Centraal Museum Ultrecht, Belanda.

Masyarakat Kota Solo dan Soloraya–khususnya Pasoepati—baru dapat mengetahui titik terang hari lahir Persis setelah sembilan dasawarsa setelah kelahiran. Kini setiap 8 November, fans Persis selalu menyambutnya bak hari raya.

Mereka berkumpul, berdoa, berpesta, bernyanyi, berteriak, dan berjingkrak semata-mata sebagai wujud munajat bagi tergapainya (lagi) hegemoni sang legenda sepak bola Indonesia.

Kemudian mulai muncul keraguan akan kebenaran sejarah hari lahir Persis lantaran di Balai Persis terdapat piala dengan ukiran ”Klaten 3-9-1923”. Persis diyakini telah berhasil menjuarai event sepak bola di Klaten pada 3 September 1923.

Logikanya jika pada 3 September 1923 Persis berhasil meraih piala, mustahil Persis baru dilahirkan dua bulan setelah itu (9 November). Beranjak dari fakta ini mulai muncul hipotesis-hipotesis yang menduga Persis lahir sebelum 1923.

Melacak fakta-fakta masa silam memang tidak mudah. Hilangnya sumber-sumber sejarah primer, sukarnya menemukan dokumen dan arsip sezaman, hingga peliknya menginterpretasikan setiap dokumen dan arsip adalah biang dari gelapnya sejarah Persis.

Sebelum Persis (VVB) lahir sudah terdapat kesebelasan Tionghoa dan Belanda yang lebih dulu eksis di Solo. Identitas kedua klub tersebut juga lekat dengan nama kota, yakni Solosche Voetbalbond (klub bentukan  peranakan Tionghoa) dan Voetbal Bond Soerakarta (klub bikinan orang-orang Belanda).

Beberapa surat kabar pada masa itu acap kali menyebut Solosche Voetbalbond, Voetbalbond Soerakarta, dan Vorstenlandsche Voetbalbond dengan kata ”Solo” atau ”Soerakarta” saja. Inilah yang berpotensi memunculkan hipotesis prematur.

Hipoteis itu adalah Persis lahir sebelum 1923. Sementara Srie Agustina Palupi (2004) dalam penelitian historis yang telah dibukukan, Politik dan Sepak Bola di Jawa 1920-1942, malah menyajikan fakta baru bahwa Vorstenlandsche Voetbal Bond berdiri pada 1924 (hal. 51).

 

Mengurai Kerunyaman

Untuk mengurai kerunyaman perihal sejarah kelahiran Persis, berikut akan diuraikan benang kusut mengenai hari lahir Persis. Persis lahir pada 1923. Bukan sebelumnya. Bukan pula sesudahnya.

Fakta ini dapat dibuktikan melalui penelaahan beberapa sumber sejarah sezaman. Majalah Berita Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia edisi Januari 1940 No. 1 Tahun II mewartakan sebuah artikel dengan judul Riwajat Persis, Setelah Berdiri 2 Windoe (16 tahoen).

Artikel tersebut mewartakan ihwal sececah sejarah dan eksistensi Persis, tetapi tidak membubuhkan informasi mengenai tanggal kelahiran Persis. Artikel tersebut bersambung (terdiri atas dua bagian), tetapi saya belum berhasil menemukan bagian pertama dari artikel tersebut.

Melalui judulnya dapat ditelaah bahwa Persis pasti terlahir selama dua windu sebelum warta terebut. Jangan buru-buru mengambil kesimpulan bahwa Persis terlahir 16 tahun sebelum 1940. Ketergesa-gesaan mengalkulasi berpotensi memunculkan kesimpulan Persis terlahir pada 1924.

Perlu digarisbawahi bahwa artikel berjudul Riwajat Persis tersebut disajikan secara bersambung. Saya memperoleh artikel bagian kedua, sedangkan bagian pertama artikel tersebut sangat mungkin termaktub dalam Majalah Berita Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia edisiDesember 1939.

Majalah Berita Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia terbit bulanan sehingga yang terjadi pada bulan ini akan diwartakan bulan berikutnya. Dapatlah ditarik benang merah bahwa pada 1939 Persis telah berusia dua windu. Artinya, Persis niscaya lahir pada 1923.

Kesimpulan tersebut bukan sekadar othak-athik gathuk. Secara lebih gamblang, dalam Surat Kabar Darmo Kondho edisi 31 Maret 1923 dijelaskan pada 30 Maret 1923, Raden Ngabehi Reksohadiprojo, Sutarman, dan Sastrosaksono membentuk Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) untuk mewadahi klub-klub sepak bola di Solo dalam satu ikatan perserikatan.

Status VVB tentu tidak bisa langsung diresmikan karena belum mendapat pengakuan pemerintah kolonial Hindia Belanda (pemerintahan yang dianggap sah waktu itu). Pemerintah kolonial tidak menghendaki berdirinya organisasi tanpa bentuk.

Setelah terbentuk pada 30 Maret 1923, pengurus VVB mesti mengurus anggaran dasar/anggaran rumah tangga, visi dan misi, susunan kepengurusan, dan legalitas dari pemerintah. Menurut sejarawan Heri Priyatmoko,  pemerintah kolonial kala itu benar-benar gentar menyaksikan berdirinya organisasi-organisasi bumiputra.

Kelahiran VVB bersamaan dengan era menyingsingnya nasionalisme di Hindia Belanda.  Masuk akal jika VVB membutuhkan waktu delapan bulan untuk mendapatkan legalitas. Memperjuangkan legalitas dan pengesahan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ikhtiar Haji Samanhudi dalam mendirikan Sarekat Dagang Islam kemudian H.O.S. Cokroaminoto dalam melegalkan Sarekat Islam dapat dijadikan contoh betapa terjalnya jalan yang mesti dilalui organisasi bentukan bumiputra.

SI butuh empat tahun untuk mendapat pengakuan sebagai organisasi yang berbadan hukum. Nasib Persis tentu lebih mujur. Untuk memperoleh hak recht persoon (legalitas), Persis hanya butuh waktu delapan bulan.

Perlu diketahui bahwa pemerintah kolonial Belanda memandang sepak bola bumiputra dengan sebelah mata dan sampai kapan pun sepak bola dianggap tidak seberbahaya organisasi sosial politik maupun ekonomi.

Peremehan macam inilah yang membuat VVB dapat bernapas dan bisa bergerak tangkas meski belum mendapat legalitas.  Meski pada 30 Maret 1923 status VVB tidak langsung disahkan dan diakui, nyatanya bond sepak bola Solo ini tetap dapat menggerakkan roda kompetisi internal dan mengikuti berbagai event.

Pada masa awal kelahirannya, VVB tidak memiliki tendensi ke arah politik praktis yang radikal sehingga tidak ada alasan bagi pemerintah kolonial untuk menjegal eksistensinya. Dengan rasionalitas semacam ini, menjadi masuk akal jika VVB mampu menjuarai event sepak bola di Klaten pada 3 September 1923.

Pada tanggal 8 November 1923 VVB baru diresmikan sebagai bond yang menaungi klub sepak bola di wilayah vorstenlanden, khususnya Solo. Seiring berjalannya waktu, VVB teraliri darah perjuangan dan pergerakan.

Amanat Sumpah Pemuda agar bangsa Indonesia menjadi senusa, sebangsa, dan sebahasa disambut VVB dengan mengubah nama menjadi Persatuan Sepakraga Indonesia Soerakarta (Persis). Nama ini diresmikan melalui musyawarah klub internal pada 12 Mei 1933.

Awal mula kelahiran Persis kini telah terang benderang. Fans Persis dapat memilih waktu yang pas untuk dijadikan momentum perayaan; 30 Maret (hari pembentukan VVB), 8 November (hari peresmian VVB oleh pemerintah kolonial), atau 12 Mei (hari pengubahan nama VVB menjadi Persis secara resmi).

Esensinya sama saja. Yang terpenting adalah gilang-gemilang kejayaan Persis selalu diuri-uri agar senantiasa bergaung dan adiluhung. Tidaklah bijaksana jika kita hanya terpancang  pada  kedigdayaan Persis padamasa silam, lalu diam dan bergeming saja, tidak tersentak untuk mengikhtiarkan kegemilangan serupa.