Masa Tua Generasi Milenial

Flo Kus Sapto W (Istimewa)
02 April 2018 01:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (29/3/2018). Esai ini karya Flo. Kus Sapto W., seorang praktisi pemasaran. Alamat e-mail penulis adalah floptmas@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Pada akhir Januari lalu ada berita yang menarik perhatian banyak kalangan, yaitu berita kematian sepasang warga lanjut usia di Magelang, Jawa Tengah.

Jenazah Sutarjo, 70, dan Surati, 60, ditemukan oleh keluarga mereka dalam kondisi hampir membusuk. Sepasang suami istri itu diduga meninggal tiga pekan sebelumnya.

Kejadian memprihatinkan itu—sepasang warga lanjut usia ditemukan telah meninggal tiga pekan kemudian--menjadi kritik sosial bagi publik. Sejauh mana tingkat kepedulian orang-orang terdekat (keluarga) dan masyarakat (tetangga) untuk menjaga harkat kemanusiaan?

Berkenaan dengan hal itu, seiring dengan membaiknya fasilitas layanan kesehatan di berbagai negara, angka harapan hidup cenderung semakin meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2010 angka harapan hidup bagi laki-laki adalah 67,89 tahun dan meningkat terus sampai dengan usia 68,87 tahun pada 2014.

Sedangkan angka harapan hidup untuk perempuan pada 2010 adalah 71,83 tahun dan meningkat menjadi 72,59 tahun pada 2014. Jumlah warga lanjut usia  (berusia lebih dari 65 tahun) pada 1950-1970 hanya 5% persen (200 juta jiwa) dari total penduduk dunia.

Persentase itu naik terus setiap tahun sehingga diperkirakan pada 2050 bisa mencapai 10% dari populasi warga dunia.  Setidaknya pada 2025 jumlah warga lanjut usia akan menjadi 828 juta jiwa (apps.searo.who.int., 2004).

Sedangkan di Indonesia jumlah warga lanjut usia pada 2010 sebanyak 18,1 juta jiwa (7,6% dari jumlah penduduk). Jumlah itu terus meningkat menjadi 36 juta jiwa pada 2025 serta bertambah menjadi 80 juta jiwa pada 2050 (depkes.go.id).

Layak dikhawatirkan kondisi kependudukan itu akan menjadi masalah sosial ketika penanganan para warga lanjut usia tersebut tidak didukung konstruksi sosial yang kuat. Masalah akan menjadi serius jika dikaitkan dengan masih tingginya angka kelahiran bayi, dominasi penduduk usia muda (generasi milenial), dan peningkatan jumlah warga lanjut usia (triple burden).

Khusus berkenaan dengan dominasi generasi milenial patut dijadikan kekhawatiran bersama. Kecenderungan perilaku generasi ini mengindikasikan ada potensi menarik diri dari kehidupan sosial.  Generasi milenial yang sekarang berumur awal 20-an tahun sampai 30-an tahun ini memang memiliki beberapa karakteristik yang cukup menarik.

Nielsen (2015) merilis beberapa kecenderungan perilaku mereka, yaitu hanya 13% yang masih ingin memiliki anak, terdapat 17% yang masih menganggap penting pernikahan, kepemilikan rumah (keluarga) bukanlah prioritas sebab hanya 22% yang memilih sebaliknya, dan hanya 26% yang berminat untuk tinggal di daerah pinggiran (suburbs).

Kecenderungan perilaku generasi milenial ini cukup layak dijadikan potensi ancaman bagi nilai-nilai kemanusian. Di satu sisi kita memang akan melihat pribadi-pribadi yang semakin ceria dan gembira dengan diri mereka sendiri. Sangat mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.

Di sisi lain, kita juga akan disuguhi menurunnya keinginan memiliki ikatan keluarga atau melahirkan anak. Pilihan untuk hidup di perkotaan daripada perdesaan (pinggiran)--yang relatif masih kuat ikatan sosialnya--juga menegaskan potensi mereka teralienasi dari komunitas tempat mereka hidup.

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata sebagai ilustrasi yang menarik. Seorang generasi milenial, anggota staf di sebuah lembaga internasional,  ditemukan meninggal di apartemennya di Jakarta pada Senin. Diperkirakan dia meninggal sejak Sabtu (catatan: bertelepon/berkirim pesan saat week end bisa dianggap sebagai gangguan terhadap privasi).

Ia baru ketahuan telah meninggal dunia saat tidak ada di tempat kerja pada awal pekan. Artinya, untuk (maaf) mati sendirian tanpa ditunggui sanak famili tidak perlu menunggu tua. Generasi yang lahir pada awal 1980-an dan pertengahan 1990-an ini sekarang masih berpotensi mendominasi hampir semua kehidupan sosial. Bagaimana dengan masa tua mereka kelak?

Karakteristik

Di dalam kajian pemasaran--khususnya sebagai entitas yang tidak bisa steril dari fenomena sosial (Kotler & Keller, 2006)--keberadaan generasi milenial sangat berpengaruh. Sebagai contoh, di dunia kerja, seturut rilis Forbes, generasi Y hanya akan bertahan di satu tempat kerja maksimal dalam setahun hingga dua tahun (baca: relasi sosial short term).

Karakteristik generasi yang selalu ingin bertumbuh ini memang tidak bisa berlama-lama di satu tempat jika dirasa sudah stuck. Mereka punya jiwa enterpreneurship yang tinggi sehingga membutuhkan lingkungan kerja yang sesuai.

Sebagai akibatnya, banyak korporasi sudah merancang berbagai kebijakan strategis. Dimulai dari pakaian kerja yang lebih kasual. Jam kerja dibuat sangat fleksibel: boleh telat datang atau lambat pulang asalkan jumlah waktu kerja adalah delapan jam dalam sehari.

Beberapa kebijakan tersebut tentu dimaksudkan untuk tetap bisa mempekerjakan generasi yang masih akan mendominasi pangsa pasar pekerja. Sementara itu, keberadaan generasi milenial juga tidak luput dari sasaran hampir semua industri untuk menjadikan mereka sebagai segmen pasar, sebagai konsumen.

Dampaknya adalah keseluruhan karakteristik produk didesain dan dikemas bagi mereka. Terlihat jelas energi researcht and develpoment telah difokuskan hanya bagi penyesuaian need generasi ini. Efek positifnya, penjual tidak lagi bisa asal menjual produk dengan membual.

Distributor ban mobil dengan tag line ”Harga Termurah” di website tapi menetapkan biaya jasa balancing & spooring di atas rata-rata jelas harus segera berbenah. Dalam hitungan menit, konsumen milenial akan  mendapatkan pembanding harga dan fasilitas tambahan dari distributor ban lain.

Tidak ada juga tempat bagi penjual yang lebay: melebih-lebihkan fitur,  tidak seperti kondisi asli produk. Ingriedient harus sesuai benar dengan kenyataan. Jika tidak, produsen semacam ini akan dirisak habis-habisan di media sosial.

Konsumen milenial juga sangat peduli dengan semua informasi yang sebaiknya tidak ditutup-tutupi oleh produsen. Dengan demikian, pemasar yang menawarkan produk dengan catatan kecil ”syarat dan ketentuan berlaku” tidak akan diminati (bvk.com, 2015) .

Moral Sosial

Fenomena sosial terkait penyesuaian karakteristik produk dengan karakteristik konsumen milenial sebenarnya juga menyisakan tanggung jawab moral bagi para pemasar. Tanggung jawab moral itu berupa konsep konstruksi sosial (fasilitas dan pendampingan) bagi generasi milenial pada  masa tua.

Tanggung jawab moral ini harus mulai digagas justru sebelum generasi yang potensial ini berpotensi terjebak dalam kehidupan soliter, hidup tanpa pendamping, tidak berkomunitas, dan kesepian. Gagasan tersebut layak disegerakan teristimewa ketika kecenderungan generasi Y ini sepertinya juga diikuti oleh generasi Z.

Patut dikhawatirkan bahwa kelompok penduduk dengan rentang masa kelahiran antara akhir 1990-an dan awal 2000-an juga berkarakteristik serupa. Komparatif dengan generasi Y, menurut Nielsen, generasi Z bahkan menunjukkan tendensi yang semakin menjauh dari kehidupan sosial.

Hanya 20% generasi Z yang masih ingin terhubung dengan keluarga/teman (sedangkan generasi Y masih 30%). Selanjutnya, terkait family time, bagi generasi Z ditempatkan pada prioritas terakhir di antara karier/pekerjaan dan kesehatan, sementara generasi Y masih menempatkan family time di atas karier.

Tugas sosial ini bisa mulai diwacanakan secara digital. Sebuah aplikasi yang memungkinkan lansia mengirimkan pesan gawat darurat atau SOS menjadi salah satu yang bisa diupayakan.

Pesan berdasarkan sensor tersensitif dan dengan kondisi/gerak fisik seminimal mungkin (misalnya panas badan, napas, bunyi dehem) harus bisa segera ditangkap sinyalnya oleh gadget terdekat yang sedang online. Akhirnya, generasi boleh saja berganti, tapi nilai kemanusiaan tidak boleh tereduksi.