Equinox Fenomena Biasa! Tak Ada Dampak Ekstrem

HARIANJOGJA/GIGIH M. HANAFIAlat berat jenis tower crane dengan latar belakang matahari terbenam terlihat di wilayah Kabupaten Sleman pada Rabu (7 - 10). Pertumbuhan pembangunan hotel serta mall setahun terakhir di wilayah Kabupaten Sleman meningkat seiring moratorium pembatasan pendirian hotel di kota Jogja sejak Januari 2014.
15 Maret 2017 21:45 WIB Nasional Share :

Matahari tepat di khatulistiwa atau equinox merupakan fenomena biasa dan tidak menimbulkan dampak ekstrem yang berbahaya.

Solopos.com, JAKARTA -- Kabar mengenai fenomena equinox yang akan mempengaruhi suhu di beberapa negara, termasuk Indonesia, kembali merebak. Kabar yang sebelumnya juga telah merebak pada 2016 tersebut itu bahkan menyebut bahwa suhu bisa meningkat drastis hingga 40 derajat Celcius yang berpotensi memicu dehidrasi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo yang dihubungi Bisnis/JIBI membenarkan bahwa setiap Maret akan terjadi fenomena equinox. Namun, menurutnya, equinox merupakan sebuah fenomena normal yang terjadi selama beberapa hari setiap tahun, yakni setiap Maret dan September ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa.

"Kalau kejadian equinox itu sebenarnya kejadian normal karena matahari itu secara semu memang berpindah-pindah tempat dari waktu ke waktu kurang lebih setiap empat hari itu akan bergeser 1 derajat. Jadi, pada 21 Maret, matahari itu memang berada di garis ekuator [khatulistiwa]," jelas Mulyono, Rabu (15/3/2017).

Konsekuensinya, sebagai negara di sekitar khatulistiwa (equator), suhu udara lebih hangat dibandingkan kondisi di tempat yang jauh dari ekuator. Saat matahari berada di garis ekuator, daerah paling dekat dengan ekuator lebih hangat.

Namun, menurutnya, fenomena ini tidak lantas akan membuat suhu di wilayah yang dilalui garis khatulistiwa meningkat secara drastis. Suhu tertinggi selama berlangsungnya fenomena ini akan berkisar antara 25-33 derajat Celcius tergantung pada topografi wilayahnya.

Untuk wilayah dataran rendah seperti daerah pantai, suhu berpotensi meningkat hingga 33 derajat Celcius jika tidak ada tutupan awan yang menghalangi terpaan sinar matahari ke bumi. Namun, ketika terjadi tutupan awan peningkatan, suhu tidak akan melebihi 33 derajat Celcius. Sedangkan di dataran tinggi, kenaikan suhu cenderung akan lebih rendah dengan perkiraan suhu tertinggi hanya 25 derajat.

Mulyono pun membantah bahwa penaikan suhu selama berlangsungnya equinox akan memicu akibat-akibat yang ekstrem. Beredar rumor fenomena ini menimbulkan dehidrasi parah, lilin yang meleleh jika ditempatkan di luar ruangan, hingga perlunya menempatkan ember berisi air di dalam ruangan untuk menjaga kelembaban. Padahal, semua itu tidak benar.

"Kondisi yang seekstrim itu tidak terjadilah sehingga tidak sampai harus istilahanya taruh ember diisi air karena ya memang ada perubahan suhu, itu akan menaik karena matahari makin dekat dengan ekuator, tapi itu kan tidak akan drastis," paparnya.